periskop.id - Badan Anggaran (Banggar) DPR mengesahkan Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) 2027, termasuk merevisi naik target lifting minyak dan gas bumi melampaui draf awal yang diajukan pemerintah. Keputusan ini lahir dari kesepakatan Panitia Kerja (Panja) KEM-PPKF 2027 atas sejumlah asumsi dasar ekonomi makro.

Ketua Banggar DPR RI Said Abdullah menerangkan, Panja telah mencapai mufakat atas revisi naik target produksi migas nasional untuk 2027. Ia menekankan pentingnya langkah proaktif dari kementerian terkait guna menarik lebih banyak investasi ke sektor ini.

Advertisement

"Pemerintah perlu mendorong peningkatan investasi migas pada level upstream. Menambah kapasitas produksi dari sumur-sumur lama, namun juga meningkatkan produksi dengan sumur-sumur migas baru," ujar Said dalam rapat bersama pemerintah, Rabu (17/6).

Pada sisi lifting minyak bumi, target yang semula ditawarkan pemerintah di kisaran 602 ribu hingga 615 ribu barel per hari (bph) kini dinaikkan menjadi 605 ribu hingga 620 ribu bph.

Target lifting gas bumi pun ikut dikerek. Rentang awal sebesar 934 ribu hingga 977 ribu barel setara minyak per hari direvisi naik menjadi 951 ribu hingga 990 ribu barel setara minyak per hari.

Revisi tersebut mencerminkan keyakinan parlemen bahwa industri hulu migas domestik masih punya ruang ekspansi yang memadai untuk mendongkrak kapasitas produksi pada tahun depan.

Di luar sektor energi, Panja juga mengesahkan laju pertumbuhan ekonomi nasional yang dipatok pada kisaran 5,8% hingga 6,5%. Angka ini dirancang selaras dengan target-target besar pembangunan di bawah pemerintahan saat ini.

Untuk asumsi makro lainnya, inflasi dijaga pada kisaran 1,5% hingga 3,5%, sementara nilai tukar rupiah diproyeksikan bergerak di level Rp16.800 hingga Rp17.500 per US$1. Suku bunga Surat Berharga Negara (SBN) bertenor 10 tahun dipatok di angka 6,5% hingga 7,3%.

Banggar dan jajaran menteri sektor ekonomi juga menetapkan patokan harga minyak mentah Indonesia (Indonesia Crude Price/ICP) pada kisaran US$70 hingga US$95 per barel.

"Panja memandang penting proyeksi pertumbuhan ekonomi yang lebih optimis disertai dengan upaya dan kebijakan transformasi struktural ekonomi Indonesia sebagai fondasi penting pertumbuhan ekonomi lebih tinggi sebagaimana yang dicita-citakan oleh Presiden Prabowo Subianto," pungkas Said.