Periskop.id - Harga minyak dunia kembali menguat pada perdagangan Jumat (17/7), setelah Amerika Serikat dan Iran meningkatkan intensitas serangan di kawasan Teluk. Minyak mentah Brent naik US$1,05 atau 1,25% menjadi US$85,28 per barel, sementara WTI menguat US$1,03 atau 1,3% menjadi US$79,98 per barel hingga pukul 01.18 GMT.
Kenaikan harga terjadi seiring memanasnya kembali konflik AS-Iran, setelah gencatan senjata yang disepakati bulan lalu praktis tidak lagi berjalan. Kekhawatiran pasar juga bertambah menyusul muncul ancaman penutupan jalur ekspor minyak lewat Laut Merah.
"Keamanan pasokan minyak masih menjadi isu yang sangat penting. Kita harus khawatir, dan saya memang khawatir, jika situasi tidak membaik dalam beberapa minggu ke depan," kata Direktur Eksekutif International Energy Agency (IEA) Fatih Birol dalam acara Council on Foreign Relations di Washington, Kamis (16/7).
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan pasukan AS telah memulai gelombang baru serangan terhadap Iran untuk malam keenam berturut-turut. Serangan tersebut bertujuan melemahkan kemampuan militer Iran secara bertahap.
Sebagai balasan, Iran meluncurkan rudal dan pesawat nirawak ke sejumlah pangkalan militer AS di negara-negara tetangga. Salah satu sasarannya adalah pangkalan udara di Yordania yang baru saja diperluas.
Tiga sumber Reuters mengungkapkan, pemerintah Iran telah meminta kelompok Houthi di Yaman bersiap menutup jalur pelayaran minyak di Laut Merah. Langkah itu akan diambil apabila AS menyerang infrastruktur kelistrikan Iran.
Jika ancaman tersebut benar-benar terealisasi, gangguan pasokan minyak global tidak hanya terjadi di Selat Hormuz. Selat Bab al-Mandeb yang menjadi pintu masuk Laut Merah, salah satu jalur pelayaran energi terpenting dunia, juga berpotensi ikut terdampak.
Sepanjang pekan ini, Brent dan WTI telah melonjak hampir 12%. Brent berada di jalur kenaikan mingguan ketiga berturut-turut, sedangkan WTI berpotensi mencatat kenaikan mingguan kedua secara beruntun.
Analis IG menilai, secara teknikal harga WTI berpotensi menguji level pertengahan US$80 per barel. Syaratnya, harga mampu bertahan di atas area support utama pada kisaran pertengahan US$70 per barel.
Eskalasi ini bermula dari serangan udara AS pada Rabu, untuk pertama kalinya sejak nota kesepahaman penghentian pertempuran bulan lalu. Dua gelombang besar serangan dilancarkan dalam satu hari, sebagian besar menyasar wilayah pesisir selatan Iran, dan berlanjut hingga Kamis.
Di tengah gejolak geopolitik ini, Trump Media & Technology Group mengumumkan peluncuran layanan data berbayar. Layanan tersebut memberikan akses tercepat bagi bank dan perusahaan perdagangan terhadap unggahan akun-akun berpengaruh di platform Truth Social, termasuk milik Presiden Donald Trump, yang kerap memengaruhi pergerakan harga minyak dan sentimen pasar energi global.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar