periskop.id - Assalamualaikum, Sobat Halalive.
Udah jadi tradisi tahunan tiap masuk bulan puasa, grup WhatsApp keluarga atau tongkrongan pasti ramai sama satu pertanyaan krusial: "Eh, tarawih di masjid mana nih yang cepet?" Realitanya, berburu masjid dengan durasi tarawih paling bersahabat itu udah kayak war tiket konser. Di satu sisi, ada masjid yang imamnya baca surat Al-Baqarah dengan nada syahdu aesthetic, tapi durasinya bikin kaki gemeteran. Di sisi lain, selalu ada video viral tiap tahun tentang "Tarawih Kilat 20 Rakaat cuma 7 Menit" yang gerakannya udah ngalahin senam aerobik.
Sebagai Gen Z atau milenial yang siangnya udah capek kerja, meeting sana-sini, atau ngerjain tugas kuliah yang nggak kelar-kelar, wajar banget kalau kita pengen ibadah yang sat-set. Tapi tunggu dulu, kalau terlalu sat-set, salat kita masih dihitung ibadah atau malah jadi olahraga kardio berkedok agama?
Yuk, kita bedah bareng-bareng. Sebenarnya, tarawih itu mending cepat atau lama sih? Dan apa syarat mutlaknya biar nggak zonk?
Kembali ke Basic: Tarawih Itu Artinya Apa Coba?
Sobat Halalive tahu nggak, kata "Tarawih" (التراويح) itu bentuk jamak dari kata tarwihah, yang secara bahasa artinya "waktu istirahat" atau "bersantai".
Lho, kok istirahat? Iya! Di zaman salaf (generasi awal Islam), mereka kalau salat malam di bulan Ramadhan itu rakaatnya panjang-panjang banget.
Saking panjangnya bacaan imam, setiap selesai 4 rakaat, mereka harus duduk istirahat dulu buat ambil napas, selonjoran, atau minum. Makanya dinamakan salat Tarawih (salat yang ada jeda istirahatnya).
Ironis ya sama zaman sekarang? Namanya salat istirahat, tapi praktiknya malah balapan pengen cepet-cepet kelar biar bisa scroll TikTok atau lanjut nongkrong.
Yang Bikin Sah Itu Bukan Durasinya, Tapi Thuma'ninah
Dalam fiqih 4 mazhab, durasi salat (mau 10 menit atau 2 jam) itu nggak ada patokan baku wajibnya. Tapi, ada satu rukun salat yang HARGA MATI dan nggak bisa ditawar: Thuma'ninah.
Thuma'ninah itu artinya tenang sejenak setelah anggota badan kembali ke posisi asalnya. Minimal, jeda tenangnya itu seukuran waktu kamu ngucapin "Subhanallah".
Misalnya, pas kamu ruku', badan harus diam dulu sedetik. Pas i'tidal (berdiri dari ruku'), badan harus tegak lurus dulu dan diam sejenak, baru turun sujud. Pas sujud, jidat dan hidung harus nempel anteng di sajadah, nggak cuma mantul kayak bola bekel.
Kalau kamu salat ngebut sampai gerakan satu dan lainnya nabrak (belum tegak i'tidal udah nyungsep sujud), SALATNYA BATAL! Dalilnya ngeri, lho. Suatu hari, ada sahabat Nabi yang salatnya ngebut banget. Selesai salat, dia salam ke Nabi Muhammad SAW. Terus Nabi bilang apa?
ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ
(Latin: Irji' fashalli, fa innaka lam tushalli.) Artinya: "Kembalilah dan salatlah, karena sesungguhnya kamu belum salat!" (HR. Bukhari & Muslim)
Nabi nyuruh orang itu ngulang salatnya sampai TIGA KALI, karena salat kilat tanpa thuma'ninah itu dianggap invalid alias belum salat sama sekali. Rugi banget kan? Udah capek-capek gerak 20 rakaat, eh di hadapan Allah catatannya kosong.
Boleh Nggak Tarawih Cepat? Boleh, Asal...
Terus, dosa nggak sih kalau milih masjid yang tarawihnya cepet? Nggak dosa, Sobat Halalive. Islam itu fleksibel kok.
Tarawih cepat itu sah-sah aja asalkan rukun-rukunnya terpenuhi, bacaan Al-Fatihahnya jelas (nggak mumbling atau kumur-kumur), dan thuma'ninah-nya dijaga.
Kalau imamnya milih baca surat-surat pendek (Juz Amma) kayak Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Nas, atau Al-Kautsar, itu sah banget. Jadi kalau kamu nemu masjid yang ritmenya agak cepat tapi tetap smooth dan ada jeda diam di setiap gerakan, silakan gas ikutan di situ.
Tapi Imam Juga Jangan Egois Baca Kepanjangan!
Di sisi lain, buat kamu yang mungkin kebetulan jadi imam, Islam juga ngelarang kita menyiksa makmum dengan bacaan yang kelewat panjang. Nggak semua orang yang di belakang kita itu atlet binaraga. Ada kakek-kakek yang lututnya udah bunyi, ada pekerja kantoran yang punggungnya encok, atau ada ibu-ibu yang anaknya nangis di rumah.
Pernah ada kejadian di zaman Nabi. Sahabat Mu'adz bin Jabal jadi imam salat Isya dan dia baca surat Al-Baqarah. Saking panjangnya, ada seorang petani yang akhirnya keluar dari barisan (mufaraqah) dan salat sendirian karena dia kecapekan seharian kerja di ladang.
Pas kejadian ini dilaporin ke Nabi SAW, Nabi malah marah besar ke Mu'adz. Beliau bersabda:
أَفَتَّانٌ أَنْتَ يَا مُعَاذُ؟
(Latin: A fattaanun anta ya Mu'adz?) Artinya: "Apakah engkau ingin membuat fitnah (keresahan/kekacauan), wahai Mu'adz?!" (HR. Bukhari)
Lalu Nabi menasihati, "Kalau kamu mengimami orang-orang, bacalah Was-syamsi wadhuhaaha, Sabhihisma rabbikal a'la, Wal-laili idzaa yaghsyaa..." (Intinya: baca surat-surat pertengahan yang ramah buat publik).
Cari Sweet Spot-nya Aja!
Agama itu jalan tengah. Jangan cari tarawih yang saking cepatnya sampai bikin ngos-ngosan dan hilang thuma'ninah, karena jatuhnya batal. Tapi juga jangan memaksakan diri ikut tarawih yang super lama kalau fisik kamu nggak sanggup, karena bisa berujung nggak khusyu' dan malah ngedumel di dalam hati.
Cari masjid yang sweet spot-nya pas buat kamu. Durasinya make sense, bacaannya tartil, gerakannya tenang, dan bikin hati kamu damai pas melangkah keluar dari masjid. Karena tujuan utama salat itu bukan seberapa cepat kita sampai garis finis, tapi seberapa connect hati kita sama Allah.
Gimana, Sobat Halalive? Malam ini udah booking shaf di masjid mana nih?
Sumber Rujukan
- Hadits tentang orang yang salatnya tidak sah tanpa thuma'ninah (Sahih Bukhari): https://sunnah.com/bukhari:757
- Hadits teguran Nabi kepada Mu'adz bin Jabal (Sahih Bukhari): https://sunnah.com/bukhari:705
- Definisi Tarawih: Kitab Lisan al-Arab karya Ibnu Manzhur dan Fathul Bari karya Ibnu Hajar Al-Asqalani.
Tinggalkan Komentar
Komentar