periskop.id – Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan (Menko Kumham Imipas) Yusril Ihza Mahendra mengungkapkan pemerintah tengah membuka peluang kajian mengenai pembebasan visa timbal balik serta ekspansi rute penerbangan langsung dengan Uni Emirat Arab (UEA).
Langkah ini diambil guna merespons tingginya mobilitas masyarakat kedua negara, termasuk untuk mendukung kelancaran layanan bagi jemaah umrah.
"Di bidang keimigrasian dan transportasi udara, kami menyambut baik meningkatnya mobilitas masyarakat kedua negara. Kami membuka peluang kajian pembebasan visa secara timbal balik serta kerja sama penerbangan," kata Yusril di Kantor Kemenkumham Imipas, Jakarta, Selasa (10/2).
Yusril menjelaskan peningkatan konektivitas ini sejalan dengan visi besar pemerintah dalam mempercepat pembangunan nasional. Ia menyampaikan arahan Presiden Prabowo Subianto terkait optimalisasi lembaga investasi baru bernama Danantara.
Kolaborasi investasi menjadi salah satu kunci utama dalam hubungan bilateral ini. Pemerintah Indonesia berharap sinergi antara Danantara dengan Dubai Fund dapat menjadi katalisator pertumbuhan ekonomi yang signifikan.
"Pembentukan Danantara sebagai lembaga investasi pemerintah serta kerja sama dengan Dubai Fund diharapkan dapat mempercepat pembangunan," ujar Yusril.
Selain sektor ekonomi dan transportasi, Yusril menyoroti urgensi alih teknologi di bidang kesehatan. Indonesia masih menghadapi tantangan berupa keterbatasan tenaga medis ahli serta fasilitas rumah sakit berteknologi tinggi.
Ia berharap dukungan UEA tidak berhenti pada pembangunan fisik semata, seperti pendirian rumah sakit atau masjid. Penguatan kompetensi sumber daya manusia (SDM) kesehatan dinilai jauh lebih krusial untuk jangka panjang.
Merespons inisiatif tersebut, Duta Besar UEA untuk Indonesia Abdulla Salem Aldhahheri membawa kabar baik dari sektor penerbangan. Maskapai Etihad Airways kini tengah menyusun rencana pembukaan rute penerbangan langsung dari Abu Dhabi menuju dua kota besar di Indonesia, yakni Medan dan Surabaya.
Tak hanya Etihad, maskapai Emirates Airlines juga sedang memproses perizinan operasional pesawat berbadan lebar. Penambahan armada besar ini ditujukan untuk meningkatkan kapasitas angkut penumpang yang terus tumbuh.
Dubes Salem juga mencatat adanya transformasi signifikan dalam peta kerja sama kedua negara. Fokus hubungan bilateral kini telah bergeser dari sektor konvensional menuju bidang-bidang yang lebih futuristik dan strategis.
“Hubungan bilateral yang sebelumnya berfokus pada sektor tradisional seperti pelabuhan dan minyak kini telah berkembang ke sektor strategis, antara lain energi terbarukan, pertahanan, kesehatan, dan pendidikan,” ujar Salem.
Beberapa proyek nyata yang sedang digarap meliputi pembangunan rumah sakit jantung di Solo dan pusat studi mangrove di Bali. Di sektor pendidikan, kemitraan terjalin antara Universitas Nahdlatul Ulama Yogyakarta dengan Universitas Zayed.
Meski demikian, pihak UEA memberikan sedikit catatan evaluasi. Potensi kerja sama panas bumi dengan PT Pertamina dinilai belum berjalan optimal secara bilateral dan masih memerlukan dorongan lebih lanjut.
Tinggalkan Komentar
Komentar