periskop.id - Kejaksaan Agung (Kejagung) memeriksa sejumlah pegawai Maybank Indonesia dalam penyelidikan kasus dugaan manipulasi nilai ekspor sawit. Pemeriksaan ini berkaitan dengan transaksi ekspor PT Salim Ivomas Pratama, salah satu produsen minyak sawit terbesar di Indonesia.
Para bankir Maybank Indonesia disebut telah mendatangi kantor Kejagung pekan lalu dengan membawa sejumlah dokumen. Penyelidik tengah menelaah apakah ekspor sawit itu dilakukan di bawah harga pasar sebagai upaya menyembunyikan keuntungan sekaligus menekan kewajiban pajak.
"Ada tapi tidak spesifik itu, yang jelas ada pendalaman dalam pemeriksaan terkait itu. Cuma pastinya apa bank-banknya kita nggak tahu, ada beberapa perusahaan. Iya, sedang didalami," ujar Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejagung Anang Supriatna di Kantor Kejagung, Jakarta, Jumat (12/6).
Anang enggan merinci lebih jauh ihwal kasus ini. Ia meminta semua pihak bersabar menunggu proses yang tengah berjalan.
"Ya nanti dilihat aja, masih dalam proses penyelidikan," ujarnya.
Maybank Indonesia turut angkat bicara merespons kabar pemeriksaan tersebut. Pihak bank menegaskan pegawainya hadir bukan sebagai pihak yang diselidiki, melainkan atas permintaan otoritas untuk memberikan kesaksian.
"Personel Maybank Indonesia telah diminta untuk memberikan informasi sebagai saksi untuk membantu pihak berwenang, dan Bank tidak menjadi subjek investigasi apa pun. Maybank Indonesia bekerja sama dengan pihak berwenang terkait sesuai dengan hukum dan peraturan yang berlaku," demikian pernyataan resmi Maybank yang dipublikasikan di situs resminya.
Kabar pemeriksaan ini pertama kali dilaporkan Bloomberg yang mengutip sumber anonim. Laporan itu kemudian ramai dikutip sejumlah media Malaysia, termasuk The Star dan Free Malaysia Today. Indonesia disebut sedang menyelidiki 10 produsen sawit besar dalam kasus serupa.
Eksposur Maybank Indonesia terhadap Salim Ivomas Pratama terbilang kecil, yakni sekitar Rp150 miliar berdasarkan laporan keuangan terbaru perusahaan. Namun, bank asal Malaysia itu sudah bertahun-tahun menjadi mitra perbankan utama bagi Grup Salim secara keseluruhan. Para penyelidik disebut sedang menggali informasi soal fasilitas perbankan yang diberikan kepada perusahaan beserta pola pembiayaannya.
Maybank diketahui menyediakan fasilitas kredit bergulir yang diperuntukkan bagi kebutuhan modal kerja, bukan secara khusus untuk mendanai kegiatan ekspor. Pihak berwenang tengah meneliti apakah ada fasilitas yang terhubung dengan transaksi yang kini sedang dalam penyelidikan.
"Bank tidak dapat memberikan komentar lebih lanjut karena masalah ini masih berlangsung, dan mengingat kewajiban kerahasiaan nasabah dan persyaratan peraturan," pungkas Maybank dalam pernyataannya.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar