Periskop.id – Mungkin anda heran, apa hubungannya pupuk organik dengan aktivitas penambangan ilegal? Tapi, di Bogor, dua hal tersebut punya hubungan kuat yang saling mempengaruhi.
Ya, inovasi pembuatan pupuk organik cair (POC) Beko hasil fermentasi keong mas dan urine domba yang dilakukan seorang pemuda bernama Wahyudin, mampu menekan aktivitas warga dalam penambangan emas tanpa izin (PETI) di wilayah Bogor, Jawa Barat.
Wahyu, warga Desa Kalongliud, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor itu, mengatakan, inovasi pembuatan pupuk cair itu dilakukan untuk menghidupkan kembali lahan terlantar seluas 35 hektare. Ia melakukannya bersama Kelompok Taruna Muda dan pemuda desa lainnya yang ada di kampung halamannya.
"Kekhawatiran atas banyaknya lahan tidur dan terbatasnya lapangan pekerjaan menjadi penggerak saya untuk berkontribusi di Kalongliud. Saya khawatir, jika tidak ditangani segera, akan banyak masyarakat yang beralih menjadi PETI," kata Wahyu dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (24/2).
Pemuda kelahiran 1988 dengan gelar Sarjana Akuntansi itu mengaku, tidak begitu tertarik menuju gedung-gedung perkantoran di kota besar untuk mencari pekerjaan. Ia justru memilih kembali ke kampung halamannya di Desa Kalongliud, untuk memegang cangkul dan sepatu bot.
Keputusan pria yang akrab disapa Kang Wahyu itu lahir dari kegelisahan panjang. Bertahun-tahun ia menyaksikan, desanya berada dalam bayang-bayang aktivitas penambangan emas tanpa izin (PETI).
Menurutnya, himpitan ekonomi dan rusaknya infrastruktur irigasi akibat bencana pada 2020, membuat sebagian warga nekat mencari nafkah di lubang-lubang tambang, mempertaruhkan nyawa demi penghasilan yang tak menentu.
Kekhawatiran dirinya atas banyaknya lahan tidur dan terbatasnya lapangan pekerjaan, kemudian menjadi penggerak dirinya untuk berkontribusi di desanya. "Saya khawatir, jika tidak ditangani segera, akan banyak masyarakat yang beralih menjadi PETI,” tutur Wahyu.
Tak Cukup Sekadar Penertiban
Menurutnya, solusi krisis dan penekanan PETI terletak pada penghidupan kembali tanah pertanian terlantar, karena penertiban semata tidak cukup tanpa menghadirkan alternatif ekonomi yang aman dan layak.
"Pencegahan PETI tidak cukup hanya dengan penertiban. Masyarakat butuh alternatif ekonomi yang lebih aman dan layak,” tegas Wahyu.
Gayung bersambut pada 2022, lanjut Wahyu, kegelisahannya sejalan dengan visi PT ANTAM Tbk UBPE Pongkor yang menghadirkan program inovasi sosial Garitan Kalongliud.
Wahyu menuturkan dirinya tidak ingin sekadar hanya menjadi penerima manfaat. Ia memilih berdiri di garis depan, memimpin kelompok taruna muda dan mengajak pemuda desa menghidupkan kembali 35 hektare lahan terlantar.
"Tantangan di lapangan tak sederhana. Harga pupuk kimia melonjak, hama keong mas menyerang padi, dan pasokan air terbatas," ucapnya.
Namun, bagi Wahyu, masalah adalah ruang lahirnya inovasi. Berbekal pelatihan dari ANTAM, ia menginisiasi pembuatan Pupuk Organik Cair (POC) Beko, hasil fermentasi keong mas dan urine domba.
Langkah tersebut, ditambah pemanfaatan 25 ton limbah kotoran domba sebagai pupuk organik, berhasil memangkas biaya pupuk hingga 50%. Untuk menjawab krisis air, Wahyu mengaku dirinya bersama warga merakit sistem irigasi tetes sederhana yang mampu menghemat penggunaan air hingga 60%.
Perubahan tak berhenti pada budi daya, ia juga mendobrak ketergantungan petani pada tengkulak. "Kelompok Taruna Muda diposisikan sebagai fasilitator pasar, memangkas rantai distribusi dan menjual hasil panen langsung ke Pasar Induk Kemang dan Kramat Jati," bebernya.
Dampaknya signifikan, Wahyu mengatakan, pendapatan kelompok tani meningkat 65%. Sepanjang 2024-2025, unit usaha cabai yang dikelola bersama kelompoknya membukukan keuntungan bersih Rp246.258.000.
Namun, bagi Wahyu, angka hanyalah sebagian cerita. Satu yang terpenting, program itu menjadi jaring pengaman sosial bagi anggota kelompok sebagai penerima manfaat langsung, maupun bagi masyarakat lainnya.
"Yang paling membanggakan, 8 mantan pelaku PETI kini telah beralih menjadi petani produktif," jelasnya.
Secara makro, inisiatif kolaborasi bersama ANTAM mencatatkan nilai Social Return on Investment (SROI) sebesar 4,34 serta berkontribusi menurunkan tingkat kemiskinan desa sebesar 6,52%.
Atas dedikasinya, Wahyu dianugerahi Environmental and Social Innovation Award (ENSIA) 2025 sebagai Local Hero Inspiratif. Kini, semangat itu terus menyala melalui Rumah Belajar Garitan yang telah dikunjungi lebih dari 696 orang.
Bagi Wahyu, gelar sarjana dan penghargaan nasional bukanlah puncak pencapaian. Kemenangan terbesarnya adalah melihat tetangganya pulang ke rumah dengan selamat, membawa hasil keringat yang halal.
"Kalau kita merawat tanah dengan hati, tanah akan merawat kehidupan kita. Dan kalau kita bergerak bersama, desa ini akan selalu punya harapan," imbuh Wahyu.
Tinggalkan Komentar
Komentar