periskop.id - Serangan besar dilancarkan Amerika Serikat (AS) bersama Israel terhadap Iran pada Sabtu (28/2) pagi, menandai eskalasi militer paling serius di kawasan Timur Tengah dalam beberapa tahun terakhir. Ledakan terdengar di lima kota, termasuk Teheran, sementara asap tebal membubung di langit ibu kota.
Presiden Donald Trump mengumumkan lewat video di Truth Social bahwa Washington telah memulai “operasi tempur besar-besaran” terhadap Iran.
“Kami sedang melakukan operasi masif dan berkelanjutan untuk mencegah kediktatoran radikal ini mengancam Amerika dan kepentingan inti keamanan nasional kami,” ujar Trump.
Trump juga menyerukan rakyat Iran untuk “mengambil alih pemerintahan kalian” dan meminta militer Iran meletakkan senjata.
Melansir CBS, Israel mengonfirmasi bahwa pasukan pertahanan mereka (IDF) melancarkan serangan udara ke sejumlah target militer di Iran bagian barat. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyebut operasi ini sebagai langkah untuk mencegah rezim Iran memiliki senjata nuklir.
“Rezim teroris ini tidak boleh dipersenjatai dengan nuklir yang dapat mengancam seluruh umat manusia,” katanya.
Mengutip BBC, Iran segera merespons lewat Dewan Keamanan Nasional Tertinggi (SNSC) yang berjanji memberikan “balasan menghancurkan” atas serangan gabungan tersebut. Mereka menegaskan bahwa rakyat Iran tidak akan tunduk pada “tuntutan kecil melalui tindakan pengecut semacam ini.”
Pemerintah Iran juga menutup sekolah dan universitas, mengurangi kapasitas kantor pemerintahan hingga 50%, serta meminta warga tetap tenang dan menghindari pusat keramaian.
Serangan ini terjadi di tengah negosiasi nuklir tidak langsung antara Washington dan Teheran.
Dua hari sebelumnya, putaran ketiga pembicaraan berlangsung di Jenewa tanpa hasil. Mediator dari Oman bahkan menyebut kesepakatan “sudah dalam jangkauan,” dengan Iran menawarkan untuk tidak lagi menyimpan stok uranium yang diperkaya dan membuka verifikasi penuh oleh Badan Energi Atom Internasional (IAEA). Namun, serangan militer membuat prospek diplomasi semakin suram.
Konteks lebih luas menunjukkan bahwa ketegangan ini bukan hal baru. Sejak 2018, Trump menarik AS dari kesepakatan nuklir JCPOA yang ditandatangani era Obama. Tahun lalu, Israel juga melancarkan serangan mendadak ke fasilitas nuklir Iran, memicu konflik 12 hari. Kini, dengan pengerahan kapal perang dan pesawat tempur AS dalam jumlah terbesar di Timur Tengah dalam beberapa dekade, risiko perang regional semakin nyata.
Selain Iran dan Israel, negara-negara tetangga ikut merasakan dampak. Qatar melaporkan berhasil mencegat rudal Iran menggunakan sistem pertahanan Patriot buatan AS. Bahrain, markas Armada ke-5 Angkatan Laut AS, juga dilaporkan menjadi sasaran serangan rudal. Sementara itu, penerbangan di kawasan Teluk dialihkan, menambah ketidakpastian bagi ribuan warga sipil.
Di dalam negeri Iran, akses internet hampir total terputus, mengingatkan pada pemadaman serupa saat protes besar-besaran bulan lalu. Kondisi ini membuat informasi sulit diverifikasi, meski laporan tentang serangan siber terhadap media pemerintah mulai bermunculan.
Serangan gabungan AS-Israel ini menandai babak baru konflik panjang terkait program nuklir Iran. Dengan retorika keras dari kedua belah pihak, diplomasi tampak semakin rapuh, sementara bayang-bayang perang regional semakin dekat.
Tinggalkan Komentar
Komentar