periskop.id - Media lokal Tasnim melaporkan Garda Revolusi Iran (IRGC) telah menutup jalur pengiriman minyak dan gas Selat Hormuz. Keputusan pemblokiran rute vital ini merespons eskalasi serangan brutal Amerika Serikat bersama Israel ke wilayah Iran pada Sabtu (28/2).
"IRGC sudah memperingatkan berbagai kapal karena suasana yang tak aman di sekitar selat akibat agresi militer AS dan Israel serta tanggapan Iran, saat ini tidak aman untuk melewati selat tersebut," lapor Tasnim.
Akses utama distribusi energi dunia ini secara praktis berhenti beroperasi sepenuhnya. "Dengan penghentian lalu lintas kapal dan tanker melalui Selat Hormuz, selat tersebut pada dasarnya telah ditutup," tulis Tasnim.
Selat Hormuz memegang peran sangat krusial sebagai rute perdagangan pasokan minyak global. Perairan sibuk ini membentang dari utara Iran hingga perbatasan selatan dekat Uni Emirat Arab dan Oman.
Iran sendiri menyandang status bergengsi sebagai salah satu negara pemasok minyak utama tingkat dunia. Negara Timur Tengah ini secara konsisten menduduki posisi sepuluh besar penghasil minyak terbanyak.
Penutupan mendadak selat ini memicu potensi lonjakan tajam pada harga energi global. Negara-negara pengimpor minyak dari Timur Tengah akan merasakan imbas ekonomi paling signifikan.
Kalangan pengusaha energi terus bersiaga tinggi menyikapi dinamika keamanan di kawasan tersebut. Kekhawatiran pelaku pasar ini memuncak sejak Israel melancarkan operasi serangan mendadak pada 13 Juni tahun lalu.
Para pengusaha sangat ketakutan melihat potensi meluasnya skala perang di Timur Tengah. Konflik bersenjata berkepanjangan ini berisiko besar merusak kelancaran distribusi logistik lintas Selat Hormuz.
Gempuran habis-habisan Amerika Serikat dan Israel pada akhir pekan lalu menimbulkan kerusakan sangat parah. Serangan mematikan ini turut merenggut nyawa Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.
Operasi militer tersebut secara total menewaskan 201 orang dan melukai lebih dari 700 warga sipil. Serangan gabungan ini juga membunuh sejumlah petinggi penting di lingkar kekuasaan Iran.
Menteri Pertahanan Iran Amir Hatami dan Komandan Angkatan Bersenjata IRGC Mohammed Pakpour masuk dalam daftar korban tewas. Kehilangan deretan tokoh sentral ini memukul telak struktur pertahanan negara.
Israel dan Amerika Serikat secara terbuka mengancam akan meneruskan rentetan serangan berskala besar. Kedua negara memburu 30 sosok pemimpin Iran termasuk jabatan presiden beserta kepala militer.
Tinggalkan Komentar
Komentar