periskop.id - Sejumlah pedagang Palestina mengeluhkan pembatasan wilayah oleh otoritas Israel memicu tekanan ekonomi berskala besar. Keluhan ini muncul seiring pelarangan ibadah salat Idulfitri di kompleks Masjid Al-Aqsa, Yerusalem Timur.

​"Pembatasan tersebut menyebabkan tekanan ekonomi yang sangat berat bagi kami," katanya di Yerusalem Timur, Jumat (20/3) seperti dilaporkan Anadolu Agency.

​Pedagang tersebut menolak identitasnya dipublikasikan. Ia merasa khawatir mendapat tindakan balasan dari aparat keamanan Israel.

​Otoritas Israel sebelumnya resmi melarang umat Muslim melaksanakan salat Idulfitri di kompleks Al-Aqsa. Pihaknya berdalih larangan ini merupakan langkah pengamanan merespons konflik dengan Iran.

​Kebijakan sepihak ini berdampak langsung pada denyut nadi perekonomian warga setempat. Israel secara ketat melarang para pedagang Palestina membuka lapak usaha mereka.

​Pemerintah pendudukan hanya mengizinkan dua jenis sektor usaha beroperasi. Apotek dan toko kebutuhan bahan pokok tetap buka secara terbatas.

​Keputusan larangan berkumpul ini membuat suasana Yerusalem Timur menjadi sangat muram. Kawasan Kota Tua kini sangat sepi menyerupai kota mati.

​Pemandangan ini berbanding terbalik dengan momen perayaan tahun-tahun sebelumnya. Kota Tua biasanya selalu padat merayap menjelang hari raya Idulfitri.

​Warga Palestina merespons penutupan Al-Aqsa dengan menggalang solidaritas secara masif. Mereka menyerukan umat Muslim berkumpul di sekitar Kota Tua pada hari Jumat.

​Massa bertekad mendirikan salat Idulfitri sedekat mungkin dengan titik lokasi Masjid Al-Aqsa. Aksi ini menjadi simbol perayaan berakhirnya bulan suci Ramadan.

​Ketegangan antara warga dan aparat keamanan sebenarnya sudah memanas sejak beberapa waktu lalu. Polisi Israel dilaporkan sempat bertindak represif mengusir jemaah.

​Aparat menembakkan gas air mata dan granat kejut ke arah kerumunan massa. Mereka juga memukul warga menggunakan pentungan secara paksa.

​Serangan tersebut menyasar warga Palestina di luar area tembok Kota Tua. Korban saat itu sedang menggelar salat sekaligus memprotes penutupan Al-Aqsa selama bulan Ramadan.