periskop.id - Presiden Prancis Emmanuel Macron menyerukan jeda perang di Timur Tengah bertepatan dengan datangnya Idulfitri. Seruan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel.

“Ketika kawasan ini memasuki musim hari raya keagamaan, saya pikir semua orang harus tenang dan operasi militer harus dihentikan setidaknya selama beberapa hari untuk memberi kesempatan lain bagi negosiasi,” ujar Macron menjelang KTT para pemimpin Uni Eropa melansir Antara, Jumat (20/3).

Idulfitri, yang tahun ini jatuh pada 20 Maret, menandai berakhirnya bulan Ramadan. Bagi umat Muslim, momen ini adalah perayaan spiritual sekaligus sosial yang biasanya diwarnai dengan silaturahmi dan solidaritas. Macron berharap momentum tersebut dapat menjadi pintu masuk bagi diplomasi baru.

Ketegangan meningkat sejak 28 Februari, ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke sejumlah target di Iran, termasuk di Teheran. Serangan itu menimbulkan korban sipil dan kerusakan besar. Media internasional melaporkan bahwa Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, tewas dalam serangan tersebut.

Iran kemudian membalas dengan menyerang wilayah Israel dan fasilitas militer AS di Timur Tengah. Washington dan Tel Aviv semula menyebut serangan mereka sebagai langkah “preemptif” untuk menghadapi ancaman nuklir Iran. Namun, pernyataan lanjutan dari pejabat kedua negara menunjukkan tujuan yang lebih jauh: mendorong perubahan kekuasaan di Teheran.

Konflik ini menambah daftar panjang ketegangan di kawasan. Iran selama bertahun-tahun berada di bawah sanksi internasional terkait program nuklirnya. Badan Energi Atom Internasional (IAEA) berulang kali menyatakan bahwa meski Iran mengklaim programnya bersifat damai, transparansi penuh belum tercapai. Situasi ini membuat negara-negara Barat khawatir akan potensi pengembangan senjata nuklir.

Seruan Macron mencerminkan kekhawatiran Eropa atas eskalasi konflik. Uni Eropa sendiri memiliki kepentingan besar menjaga stabilitas Timur Tengah, baik dari sisi keamanan energi maupun arus migrasi.