periskop.id - Pemerintah Inggris menyatakan 20 negara siap berkontribusi memastikan keamanan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz di tengah eskalasi konflik. Kelompok negara ini sepakat mengambil langkah strategis demi menjaga kelancaran rantai pasok energi global.

​"Kami menyatakan kesiapan untuk berkontribusi langkah yang tepat untuk memastikan pelayaran aman di Selat Hormuz. Kami menyambut komitmen bangsa-bangsa yang terlibat dalam rencana persiapannya," tulis pernyataan bersama enam negara inisiator pada Kamis (19/3).

​Keenam negara pertama pembentuk kesepakatan tersebut meliputi Inggris, Prancis, Jerman, Italia, Belanda, dan Jepang.

​Negara inisiator ini menekankan gangguan terhadap pelayaran internasional sangat mengkhawatirkan.

​Mereka menilai hambatan rantai pasok energi global merupakan ancaman nyata bagi perdamaian dan keamanan global.

​Negara-negara ini juga menyerukan implementasi moratorium komprehensif dan segera.

​Langkah ini bertujuan mengakhiri serangan terhadap infrastruktur sipil, termasuk instalasi minyak dan gas.

​Pernyataan bersama terkait keamanan maritim ini kemudian diperbarui pada Sabtu ini.

​Dokumen pembaruan tersebut mencatat penambahan 14 negara baru yang bersedia bergabung mengamankan Selat Hormuz.

​Daftar negara baru tersebut antara lain Kanada, Korea Selatan, Selandia Baru, Denmark, Latvia, Slovenia, Estonia, Norwegia, Swedia, Finlandia, Republik Ceko, dan Romania.

​Krisis pelayaran ini berakar dari eskalasi serangan militer pada 28 Februari.

​Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan gabungan menyasar wilayah Iran, termasuk ibu kota Teheran.

​Gempuran mematikan tersebut menimbulkan kerusakan infrastruktur berskala besar sekaligus memicu korban jiwa.

​Iran merespons melepaskan serangan balasan ke wilayah Israel dan berbagai pangkalan militer AS di seluruh Timur Tengah.

​Ketegangan militer beruntun ini akhirnya menghentikan total aktivitas perkapalan di Selat Hormuz.

​Selat ini berstatus rute paling kunci bagi suplai minyak dan LPG dari kawasan Teluk menuju pasar global.

​Dampak kelumpuhan jalur logistik utama ini langsung memicu lonjakan harga bahan bakar di banyak negara.