Periskop.id - Presiden AS Donald Trump mempertimbangkan untuk menambah pasukan AS di Timur Tengah, dalam perang melawan Iran menurut laporan The Wall Street Journal yang mengutip sumber-sumber pertahanan.
Departemen Pertahanan AS mengkaji opsi untuk mengirim hingga 10.000 prajurit darat tambahan ke kawasan itu untuk memberikan lebih banyak opsi militer kepada presiden.
Langkah itu diambil di tengah kemungkinan pembicaraan damai dengan Iran, menurut laporan The Wall Street Journal mengutip sumber-sumber pertahanan, dikutip Jumat (27/3).
Pasukan tambahan itu akan mencakup infanteri dan kendaraan lapis baja. Pasukan akan diperkuat oleh sekitar 5.000 marinir dan beberapa ribu prajurit penerjun payung yang telah menerima perintah penempatan ke Timur Tengah.
Namun, masih belum jelas ke wilayah mana pasukan tersebut akan ditempatkan. Menurut laporan itu, pasukan tambahan kemungkinan akan ditempatkan di sekitar Iran dan Pulau Kharg.
Sepertid iketahui, pada 28 Februari, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap target-target di Iran, termasuk di Teheran, yang menyebabkan kerusakan dan menewaskan warga sipil.
Iran kemudian membalas dengan menyerang wilayah Israel dan fasilitas militer AS di Timur Tengah. AS dan Israel awalnya menyatakan serangan "pencegahan" itu diperlukan untuk menghadapi ancaman dari program nuklir Iran. Namun, belakangan mereka menegaskan keinginan melihat perubahan kekuasaan di negara itu.
Penangguhan Serangan
Trump, sebelumnya mengatakan, AS akan menangguhkan serangan yang direncanakan terhadap fasilitas-fasilitas energi Iran selama 10 hari, dengan mengeklaim bahwa pembicaraan antara kedua belah pihak "berjalan dengan sangat baik".
"Atas permintaan Pemerintah Iran, harap pernyataan ini menjadi representasi bahwa saya menangguhkan periode penghancuran Pembangkit Energi selama 10 Hari hingga Senin, 6 April 2026, pukul 20.00 Eastern Time," ujar Trump di platform media sosial Truth Social.
Dia juga mengatakan, pembicaraan sedang berlangsung dan meskipun diwarnai pernyataan yang keliru dari "media berita palsu", pembicaraan itu berjalan dengan sangat baik.
Pembicaraan tak langsung AS-Iran berlangsung melalui pesan-pesan yang diteruskan oleh Pakistan, kata Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri (Menlu) Pakistan Mohammad Ishaq Dar dalam sebuah unggahan di media sosial, Kamis.
Menlu Iran Seyed Abbas Araghchi pada Rabu (25/3) mengatakan, pesan-pesan berbeda telah dipertukarkan antara Iran dan AS melalui perantara dalam beberapa hari terakhir. Sementara Teheran tidak mengadakan pembicaraan dengan Washington sejak AS dan Israel memulai serangan besar-besaran terhadap Iran pada 28 Februari.
Trump pada Sabtu (21/3) memberi waktu 48 jam kepada Teheran untuk sepenuhnya membuka kembali Selat Hormuz. Jika tidak, Washington dapat melancarkan serangan terhadap pembangkit listrik dan infrastruktur energi Iran. Teheran puh merespons dengan mengisyaratkan akan melancarkan balasan di seluruh kawasan tersebut jika serangan itu terjadi.
Tinggalkan Komentar
Komentar