Periskop.id - Lonjakan harga komoditas global akibat konflik geopolitik kini merambah sektor yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Jika sebelumnya kenaikan harga lebih banyak terjadi pada energi seperti bahan bakar minyak dan emas, kini harga plastik ikut terdampak dan mengalami kenaikan signifikan hingga lebih dari 40%.
Fenomena ini menjadi perhatian karena plastik merupakan bahan yang sangat umum digunakan, mulai dari kemasan makanan, botol minuman, hingga berbagai produk rumah tangga.
Kenaikan harga plastik tidak terjadi tanpa sebab. Salah satu faktor utama adalah terganggunya pasokan bahan baku utama, yaitu nafta. Bahan ini merupakan komponen penting dalam produksi plastik dan banyak dipasok dari kawasan Timur Tengah.
Konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran telah mengganggu rantai pasok petrokimia global. Ketegangan di kawasan tersebut, termasuk di jalur strategis seperti Selat Hormuz, membuat distribusi bahan baku menjadi tidak stabil.
Akibatnya, produksi plastik di berbagai negara ikut tertekan.
Thailand dan China Alami Kenaikan Signifikan
Dampak kenaikan harga plastik terlihat jelas di sejumlah negara Asia.
Melansir Bangkok Post, Senin (23/3), harga bahan baku plastik seperti polyethylene, polypropylene, dan low-density polyethylene (LDPE) di Thailand mengalami kenaikan sekitar 30 hingga 40 persen. Padahal, bahan-bahan tersebut merupakan komponen utama dalam hampir semua kemasan produk.
Sementara itu di China, lonjakan harga bahkan lebih tinggi. Berdasarkan data Trading Economics, Senin (6/4), harga polyethylene telah menembus 9.000 yuan per ton pada Maret 2026.
Angka ini menjadi level tertinggi dalam empat tahun terakhir dan mencerminkan kenaikan sekitar 45% sejak awal tahun.
Dampak Mulai Terasa di Indonesia
Indonesia juga tidak luput dari dampak kenaikan harga plastik global. Sejumlah laporan menunjukkan bahwa harga produk berbahan plastik seperti kantong kresek dan gelas plastik mengalami kenaikan hingga sekitar Rp8.000 per pak di pasaran.
Kenaikan ini berpotensi membebani pelaku usaha kecil hingga industri besar yang bergantung pada kemasan plastik dalam operasionalnya.
Efek Domino ke Industri Makanan dan Minuman
Kenaikan harga plastik juga mulai memicu efek domino pada industri makanan dan minuman.
Di Thailand, beberapa produsen mi instan dilaporkan mulai mengurangi produksi karena kesulitan mendapatkan kemasan plastik dengan harga terjangkau. Jika kondisi ini berlanjut, bukan tidak mungkin harga produk makanan akan ikut naik di pasar.
Situasi ini menunjukkan bahwa gangguan pada satu sektor dapat berdampak luas ke sektor lainnya.
Menghadapi kondisi ini, sejumlah negara dan perusahaan mulai mencari alternatif pasokan bahan baku dari wilayah lain untuk menjaga keberlangsungan produksi.
Selain itu, beberapa pelaku industri juga mulai beralih ke bahan baku lokal sebagai solusi sementara. Namun, langkah ini belum sepenuhnya mampu menggantikan pasokan global yang terganggu.
Tinggalkan Komentar
Komentar