periskop.id - Kenaikan harga dan kelangkaan plastik belakangan ini menjadi sorotan masyarakat. Menteri Perdagangan Budi Santoso menyebut kondisi tersebut dipicu oleh ketegangan geopolitik global yang berdampak pada pasokan bahan baku industri.
Budi menjelaskan, salah satu penyebab utama adalah terganggunya pasokan nafta bahan baku utama plastik yang selama ini diimpor dari kawasan Timur Tengah.
"Jadi ini bagian dari dampak dari perang. Kita itu, bahan baku plastik itu salah satunya adalah nafta. Nafta itu kita impor dari Timur Tengah," kata Budi kepada media, Jakarta, Rabu (1/4).
Untuk mengatasi hal tersebut, kata Budi, pemerintah tengah mencari alternatif sumber pasokan dari negara lain seperti Afrika, India, dan Amerika Serikat. Namun, proses peralihan ini membutuhkan waktu karena perubahan rantai pasok tidak dapat dilakukan secara instan.
"Memang ini butuh waktu, karena kan tiba-tiba dari timur tengah trus pindah ke negara lain. Jadi kita harapkan proses ini bisa berjalan dengan baik, sehingga harga bisa kembali normal," jelas Budi.
Pemerintah juga terus berkoordinasi dengan asosiasi dan pelaku industri untuk memastikan ketersediaan bahan baku tetap terjaga. Selain itu, perwakilan perdagangan Indonesia di luar negeri turut ditugaskan mencari pemasok baru guna mempercepat pemulihan pasokan.
Budi menambahkan, gangguan pasokan ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga dirasakan di sejumlah negara seperti Singapura, China, Korea Selatan, Taiwan, dan Thailand.
"Tapi kita untuk bahan baku trus kita lakukan sehingga produksi di dalam negeri normal lagi," tutup Budi.
Tinggalkan Komentar
Komentar