Periskop.id - Teheran menuntut kompensasi dari Bahrain, Arab Saudi, Qatar, Uni Emirat Arab (UAE), dan Yordania atas peran mereka dalam operasi militer gabungan AS-Israel terhadap Iran. Demikian isi surat dari Perwakilan Tetap Iran untuk PBB, Amir Saeid Iravani.
Iravani mengirimkan surat tersebut kepada Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres dan Bahrain, yang memegang jabatan presiden bergilir Dewan Keamanan PBB pada April.
"Mengingat hal tersebut di atas, Kerajaan Bahrain, Kerajaan Arab Saudi, Negara Qatar, Uni Emirat Arab, dan Kerajaan Hashemite Yordania ... Harus memberikan ganti rugi penuh kepada Republik Islam Iran. Termasuk kompensasi atas semua kerusakan materiil dan moral sebagai akibat dari tindakan mereka yang melanggar hukum internasional," demikian isi surat tersebut, sebagaimana dikutip RIA Novosti, Selasa (14/4).
Ia menegaskan, negara-negara yang disebutkan itu tidak hanya menyediakan wilayah mereka untuk agresi terhadap Iran. Dalam beberapa kasus, mereka juga terlibat langsung dalam melancarkan "serangan bersenjata ilegal yang menargetkan objek sipil" di Iran.
Hak - Hak Rakyat
Sebelumnya, Wakil Presiden Iran Mohammad Reza Aref, Minggu (12/4), menegaskan bahwa Teheran akan tetap teguh dalam mempertahankan hak-haknya “mulai dari Selat Hormuz hingga menuntut kompensasi,” usai perundingan dengan Amerika Serikat (AS) di Islamabad, Pakistan, Sabtu (11/4).
Aref menyoroti persatuan nasional, dengan merujuk pada apa yang ia sebut sebagai meningkatnya kohesi dalam masyarakat. Ia juga menyatakan pemerintah memandang persatuan tersebut sebagai landasan untuk memajukan kepentingan negara.
“Dari kekuatan di Selat Hormuz hingga menuntut kompensasi, kami tetap teguh pada hak-hak rakyat. Ini adalah komitmen kami untuk Iran yang kuat,” ujarnya.
Ia menambahkan, Iran tetap berkomitmen untuk melindungi hak-haknya sambil melanjutkan upaya di jalur diplomatik dan nasional. Delegasi Iran dan AS mengakhiri putaran terbaru perundingan di Islamabad tanpa mencapai kesepakatan.
Negosiasi yang dimediasi oleh Pakistan tersebut berlangsung melalui beberapa putaran diskusi dan pertukaran usulan. Namun jalannya perundingan belum menghasilkan adanya terobosan.
Kedua pihak meninggalkan Islamabad dengan sejumlah perbedaan utama yang belum terselesaikan, seraya memberi sinyal, upaya diplomatik lanjutan masih diperlukan.
Perundingan tersebut merupakan bagian dari upaya lebih luas untuk mengakhiri penyerbuan AS-Israel terhadap Iran yang dimulai pada 28 Februari, di bawah gencatan senjata dua pekan yang rapuh dan dimediasi pada awal pekan ini.
Tinggalkan Komentar
Komentar