periskop.id - Nilai tukar rupiah ditutup melemah pada perdagangan Selasa, 14 April 2026, ke level Rp17.127 per dolar AS. Pelemahan sebesar 22 poin ini terjadi dari penutupan sebelumnya di Rp17.105, di tengah ketidakpastian global meski indeks dolar AS tercatat melemah.

“Rupiah sore ini ditutup melemah 22 poin di level Rp17.127 dari penutupan sebelumnya Rp17.105, sebelumnya sempat melemah 50 poin,” ujar Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi, Selasa (14/4).

Dari eksternal, tekanan terhadap rupiah masih dipengaruhi dinamika geopolitik di Timur Tengah, meskipun terdapat tanda-tanda potensi dialog antara Amerika Serikat dan Iran untuk mengakhiri konflik. Harapan negosiasi ini sempat meredakan kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi akibat blokade AS di Selat Hormuz.

Militer AS sebelumnya menyatakan bahwa blokade akan diperluas hingga Teluk Oman dan Laut Arab. Data pelacakan kapal juga menunjukkan adanya kapal yang berbalik arah saat kebijakan tersebut mulai diterapkan. Di sisi lain, Iran mengancam akan menargetkan pelabuhan negara-negara di kawasan Teluk setelah gagalnya perundingan akhir pekan.

Meski demikian, sumber yang mengetahui proses negosiasi menyebutkan dialog antara AS dan Iran masih berlangsung. Presiden AS Donald Trump juga menyatakan bahwa Iran ingin membuat kesepakatan. Sementara itu, sekutu NATO seperti Inggris dan Prancis memilih tidak terlibat dalam blokade dan mendorong pembukaan kembali jalur pelayaran strategis tersebut.

“Ketidakpastian ini turut memicu kekhawatiran terhadap pasar energi global. Sejumlah lembaga internasional seperti Dana Moneter Internasional (IMF), Bank Dunia, dan Badan Energi Internasional (IEA) bahkan mengingatkan agar negara-negara tidak melakukan penimbunan energi atau pembatasan ekspor di tengah potensi guncangan besar di pasar global,” jelas Ibrahim.

Dari dalam negeri, pelaku usaha cenderung bersikap hati-hati di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Dunia usaha saat ini berada dalam fase wait and see, terutama akibat eskalasi konflik geopolitik dan belum pastinya arah negosiasi antara AS dan Iran.

Kondisi ini tercermin dari kecenderungan pelaku usaha yang menahan ekspansi besar, khususnya yang bersifat padat modal, dan lebih fokus pada efisiensi operasional. Investasi pun mulai diarahkan ke sektor yang lebih resilien seperti pangan, energi, dan digital.

Sejumlah faktor turut memengaruhi keputusan ekspansi, antara lain volatilitas harga energi dan logistik, tekanan terhadap nilai tukar rupiah, melemahnya permintaan global, serta tingginya biaya pembiayaan. Dampaknya, kinerja penjualan dalam jangka pendek masih cenderung stagnan, meski berpotensi membaik pada semester II 2026 apabila tidak terjadi eskalasi lanjutan.

Untuk mendorong pertumbuhan, pelaku usaha berharap adanya kepastian kebijakan, insentif fiskal, kemudahan investasi, serta stabilitas nilai tukar dan inflasi. Percepatan belanja pemerintah dan deregulasi sektor riil juga dinilai penting untuk menjaga daya saing.

“Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah diperkirakan akan fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.120-Rp17.170,” tutup Ibrahim.