periskop.id - Kantor berita RIA Novosti mengungkapkan lebih dari 30 armada komersial sedang berlayar merapat ke kawasan Selat Hormuz. Kesimpulan ini merujuk pada hasil analisis data pelacakan maritim dari MarineTraffic pada Jumat.

Puluhan kapal niaga tersebut terpantau bergerak masuk menuju selat dari dua arah berbeda. Rinciannya meliputi 23 armada bertolak dari Teluk Persia dan delapan armada berlayar dari Teluk Oman.

Rombongan kapal dari arah Teluk Persia didominasi oleh jenis kargo kering. Mereka secara konstan mendekati jalur maritim strategis tersebut.

Pemandangan sedikit berbeda terlihat pada rombongan armada dari arah sebaliknya. Mayoritas armada dari Teluk Oman merupakan kapal tanker pengangkut minyak bumi.

Tepatnya enam dari total delapan armada di rute Teluk Oman berjenis tanker minyak. Mereka sedang dalam perjalanan menyeberangi selat penghubung vital ini.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi sebelumnya telah merespons aktivitas pelayaran ini. Jalur pelayaran kapal komersial melalui Selat Hormuz sepenuhnya terbuka selama gencatan senjata berlangsung, jelasnya.

Kelonggaran akses maritim ini memberikan jaminan keamanan bagi armada internasional. Kapal niaga bisa melintasi perairan tersebut secara bebas selama masa jeda konflik.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan pandangan berbeda terkait situasi perairan. Blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan Iran akan tetap berlaku penuh, tegasnya.

Sanksi penutupan akses pelabuhan ini terus mengikat sampai kesepakatan akhir dengan Iran terselesaikan. Sebagian besar poin negosiasi kesepakatan sebenarnya telah selesai dibahas, tambahnya.

Komando Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyusul mengeluarkan kebijakan pada hari yang sama. Mereka resmi memberlakukan "tatanan baru" untuk standar navigasi di area selat.

Aturan navigasi mutakhir ini mengikat pergerakan perlintasan seluruh kapal sipil. Armada niaga internasional kini hanya boleh berlayar menyusuri rute khusus yang telah ditetapkan otoritas.