periskop.id - Insiden penembakan mengguncang Islamic Center San Diego, Amerika Serikat, pada Senin (18/5). Kepala Kepolisian San Diego, Scott Wahl, mengonfirmasi bahwa lima orang tewas dalam peristiwa tersebut, termasuk dua remaja yang diduga sebagai pelaku penembakan. 

“Salah satu dari tiga korban jiwa lainnya adalah petugas keamanan setempat.” kata Wahl.

Advertisement

Laporan The New York Times menyebutkan bahwa petugas tersebut meninggal akibat luka tembak saat berusaha menghentikan serangan.

Informasi awal menunjukkan kedua pelaku, berusia 17 dan 19 tahun, kemungkinan besar mengakhiri hidup mereka dengan bunuh diri. Polisi masih mendalami motif di balik aksi brutal ini.

Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Los Angeles memastikan tidak ada warga negara Indonesia yang menjadi korban dalam insiden tersebut.

Penembakan di tempat ibadah bukanlah hal baru di Amerika Serikat. Data dari Gun Violence Archive mencatat lebih dari 600 insiden penembakan massal terjadi sepanjang 2025, dengan sejumlah kasus menargetkan rumah ibadah. 

Tragedi di San Diego ini menambah daftar panjang kekerasan bersenjata yang menimbulkan kekhawatiran publik terhadap keamanan komunitas.

Pemerintah lokal dan komunitas Muslim di San Diego kini berupaya memberikan dukungan psikologis bagi para jamaah yang selamat. Para tokoh masyarakat menyerukan peningkatan pengamanan di sekitar pusat-pusat ibadah.

Kasus ini juga kembali memicu perdebatan nasional mengenai regulasi kepemilikan senjata api di Amerika Serikat. Banyak pihak menilai lemahnya kontrol senjata menjadi faktor utama tingginya angka penembakan massal.

Sementara itu, pihak kepolisian berjanji akan mengungkap detail lebih lanjut setelah investigasi selesai. 

“Kami akan memastikan seluruh fakta terungkap demi keadilan bagi para korban,” ujar Wahl menutup konferensi pers.