Periskop.id - Aktivitas pelayaran di Selat Hormuz mulai menunjukkan pemulihan signifikan setelah sempat terganggu akibat ketegangan geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat (AS). Pemulihan ini terlihat dari meningkatnya jumlah kapal yang melintasi jalur laut strategis tersebut dalam sepekan terakhir, terutama kapal-kapal yang berkaitan dengan perdagangan Iran.

Media industri pelayaran Inggris, Lloyd’s List melaporkan, Rabu (20/5), lalu lintas kapal di Selat Hormuz meningkat tajam pada periode 11 hingga 17 Mei 2026. Dalam laporan itu disebutkan sedikitnya 54 kapal melintas di jalur tersebut, naik lebih dari dua kali lipat dibanding pekan sebelumnya yang hanya mencatat 25 kapal.

Peningkatan lalu lintas terjadi meski pembatasan Amerika Serikat terhadap kapal yang singgah di pelabuhan Iran masih berlaku. Situasi ini menandakan aktivitas perdagangan yang berhubungan dengan Iran perlahan mulai kembali bergerak setelah sebelumnya sempat tertekan akibat eskalasi konflik kawasan Timur Tengah.

Selat Hormuz sendiri merupakan salah satu jalur pelayaran paling penting di dunia karena menjadi pintu utama distribusi minyak dan gas dari kawasan Teluk menuju pasar global. Menurut data Badan Informasi Energi AS (EIA), sekitar seperlima pasokan minyak dunia setiap harinya melewati jalur tersebut.

Laporan Lloyd’s List juga menyoroti adanya peningkatan aktivitas kapal pengangkut energi di kawasan Teluk. Salah satunya adalah kapal pengangkut gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) milik Abu Dhabi National Oil Company yang dilaporkan memasuki perairan Teluk dengan mematikan sistem identifikasi otomatis atau Automatic Identification System (AIS).

Langkah mematikan AIS, kerap menjadi sorotan dalam industri maritim karena berpotensi menyulitkan pelacakan kapal, terutama di kawasan yang sedang mengalami ketegangan geopolitik tinggi.

Peningklatan Aktivitas Pelayaran
Sementara itu, data perusahaan analitik maritim Windward yang berbasis di London menunjukkan aktivitas pelayaran di Selat Hormuz terus bergerak. Pada Senin (18/5), tercatat 19 kapal melintas, terdiri atas sembilan kapal masuk dan 10 kapal keluar dari kawasan Teluk.

Kapal yang masuk didominasi kapal kargo berbendera sejumlah negara seperti India dan Sri Lanka. Sedangkan kapal yang keluar terdiri dari satu kapal tanker dan sembilan kapal kargo, dengan lima di antaranya berbendera Iran.

Peningkatan aktivitas pelayaran ini terjadi setelah situasi keamanan di kawasan mulai relatif stabil pasca-gencatan senjata antara Iran dan Israel yang dimediasi Pakistan pada April lalu. Sebelumnya, konflik sempat memicu gangguan distribusi energi global dan meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap potensi penutupan Selat Hormuz.

Sekedar mengingatkan, ketegangan di kawasan memuncak setelah AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada Februari 2026, yang kemudian dibalas Teheran dengan serangan balasan dan ancaman terhadap jalur pelayaran strategis di Teluk.

Sebelumnya, Anggota Dewan Kemaslahatan Iran Mayjen Mohsen Rezaei bahkan sempat memperingatkan, Laut Oman dapat berubah menjadi “kuburan” bagi kapal-kapal AS apabila tekanan dan blokade terhadap Iran terus berlangsung.

"Selat Hormuz terbuka untuk perdagangan, tetapi akan ditutup bagi penumpukan militer dan segala upaya yang mengganggu keamanan," tegasnya dalam pernyataan yang disiarkan televisi pemerintah Iran.

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump juga kembali memberikan tekanan terhadap Iran dan menyebut waktu bagi Teheran semakin sempit untuk mengambil keputusan terkait konflik yang berlangsung.

Meski situasi politik dan keamanan masih belum sepenuhnya stabil, pulihnya aktivitas pelayaran di Selat Hormuz dinilai menjadi sinyal penting bagi pasar energi global. Jalur tersebut selama ini menjadi urat nadi distribusi minyak mentah dunia, termasuk untuk negara-negara Asia seperti China, India, Jepang, dan Korea Selatan yang sangat bergantung pada pasokan energi dari kawasan Teluk.