periskop.id - Menteri Luar Negeri RI Sugiono berkunjung ke Naypyidaw dan bertemu Presiden Myanmar Min Aung Hlaing, Selasa (9/6). Kunjungan itu menjadi momen penyampaian pesan Presiden Prabowo Subianto terkait dukungan Indonesia bagi proses perdamaian di Myanmar.

Sugiono menegaskan, Indonesia berkomitmen mendorong terwujudnya perdamaian yang inklusif dan berkelanjutan di negara tersebut. Pesan Prabowo juga menekankan pentingnya penyelesaian konflik lewat dialog yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan.

Advertisement

Indonesia, menurut Sugiono, siap bekerja sama dengan berbagai pihak di Myanmar guna mendorong proses perdamaian secara damai. Pemerintah RI turut menegaskan penyelesaian konflik harus dipimpin dan dimiliki oleh rakyat Myanmar sendiri, sejalan dengan prinsip proses perdamaian yang bersifat Myanmar-owned dan Myanmar-led.

Jakarta juga kembali menyerukan pentingnya implementasi Five-Point Consensus ASEAN sebagai kerangka utama dalam mendukung penyelesaian krisis yang berlangsung di negara tersebut.

Di luar pertemuan dengan Min Aung Hlaing, Sugiono menggelar pembicaraan terpisah dengan Menteri Luar Negeri Myanmar Tin Maung Swe. Keduanya membahas sejumlah isu bilateral dan kawasan.

Dalam pertemuan itu, kedua pihak menjajaki peluang penguatan kerja sama di bidang ekonomi, pendidikan, serta hubungan antarmasyarakat kedua negara.

Kunjungan Sugiono sekaligus menjadi wujud solidaritas Indonesia terhadap rakyat Myanmar. Selama beberapa tahun terakhir, Indonesia tercatat menyalurkan bantuan kemanusiaan, layanan kesehatan, serta dukungan penanggulangan bencana, termasuk pascagempa yang melanda Myanmar pada 2025.

Indonesia memandang Myanmar sebagai bagian penting dari komunitas ASEAN. Karena itu, Jakarta menyatakan akan terus menjalin kerja sama konstruktif dengan Myanmar dan negara-negara anggota ASEAN lainnya demi menjaga stabilitas serta kesejahteraan kawasan.

Kunjungan Sugiono merupakan bagian dari keterlibatan berkelanjutan negara-negara ASEAN dalam mendukung proses perdamaian di Myanmar. Sebelumnya, menteri luar negeri dari Filipina, Thailand, dan Malaysia telah lebih dulu melakukan kunjungan serupa ke Naypyidaw.

Hubungan diplomatik Indonesia dan Myanmar telah terjalin sejak 1949. Kedua negara juga dikenal sebagai penggagas Konferensi Asia-Afrika, yang menjadi tonggak solidaritas dan kerja sama negara-negara berkembang, sekaligus fondasi bilateral yang terus diperkuat hingga kini.