Periskop.id - Keiko Sofia Fujimori Higuchi resmi terpilih sebagai presiden baru Peru setelah mengalahkan Roberto Sanchez dari koalisi Juntos por el Peru. Kemenangan ini menjadikannya perempuan pertama yang menduduki kursi kepresidenan di negara pegunungan Andes tersebut.

Kantor Proses Pemilu Nasional Peru (ONPE) merampungkan penghitungan 100% dari 92.766 berita acara pemungutan suara pada Senin (29/6). Proses itu memakan waktu berminggu-minggu lantaran adanya peninjauan ketat terhadap sejumlah surat suara yang dipersengketakan.

Hasil akhir menempatkan Fujimori unggul atas Sanchez dengan jarak yang sangat sempit, hanya 49.641 suara. Persaingan ketat ini disebut Anadolu sebagai salah satu pilpres paling panas dalam sejarah modern Peru.

Perempuan kelahiran Lima, 25 Mei 1975 itu kini mendapat mandat konstitusional untuk memimpin Peru dalam periode 2026-2031. Pelantikannya dijadwalkan berlangsung pada 28 Juli mendatang.

Fujimori akan memerintah bersama Wakil Presiden Pertama Luis Galaretta Velarde, mantan ketua Kongres, serta Wakil Presiden Kedua Miguel Angel Torres Morales, pengacara konsultasi sekaligus mantan anggota parlemen.

Kemenangan ini juga mencatat rekor tersendiri: ia menjadi kandidat pertama dalam sejarah Peru yang berhasil merebut jabatan presiden setelah empat kali mencoba. Perjalanannya diwarnai tiga kekalahan di putaran kedua, lebih dari 500 hari dalam tahanan pra-persidangan, serta gelombang sentimen anti-Fujimori yang selama bertahun-tahun sulit dibendung.

Kiprah politik Fujimori bermula pada 1994, saat ia berusia 19 tahun. Ketika itu, ia mengambil peran seremonial sebagai ibu negara menyusul perpisahan orang tuanya, Susana Higuchi dan Presiden Alberto Fujimori, yang menjadi sorotan publik luas.

Paparan awal itulah yang membentuk karier politiknya, sekaligus mewariskan beban sejarah yang berat. Ayahnya, Alberto Fujimori, belakangan dijatuhi vonis 25 tahun penjara atas kasus korupsi dan kejahatan terhadap kemanusiaan.

Pada 2011, Fujimori meluncurkan pencalonan presiden pertamanya di bawah bendera Fuerza 2011, namun tumbang di putaran kedua. Lima tahun kemudian, ia tampil sebagai unggulan kuat dengan raihan 39,9% suara di putaran pertama, tapi kembali kalah tipis dari bankir konservatif Pedro Pablo Kuczynski dengan selisih sekitar 41.000 suara.

Pencalonannya pada 2021 berlangsung lebih berat. Fujimori tersandung skandal pendanaan kampanye bertajuk "Cocktails" dan beberapa kali menjalani penahanan pra-persidangan. Meski lolos ke putaran kedua dengan hanya 13% suara di putaran pertama, ia kembali kalah dari Pedro Castillo dengan selisih kurang dari satu poin persentase.

Di luar politik, Fujimori menyandang gelar Sarjana Administrasi Bisnis dari Universitas Boston dan gelar Master of Business Administration (MBA) dari Universitas Columbia. Ia mendirikan partai konservatif Fuerza Popular pada 2009.

Selama masa tugasnya sebagai anggota Kongres dari 2006 hingga 2011, ia mencatat rekor dengan meraih 602.869 suara individu. Angka itu menjadi yang tertinggi yang pernah dikantongi seorang legislator Peru hingga saat itu.