Periskop.id - Rupiah kembali melemah pada perdagangan Selasa (30/6), ditutup di level Rp17.906 per dolar AS atau turun sekitar 0,31% dari penutupan sebelumnya di Rp17.851. Tekanan terhadap mata uang Garuda dipicu oleh penguatan dolar AS di tengah ketidakpastian geopolitik global dan meningkatnya ekspektasi kebijakan moneter ketat dari Amerika Serikat.
Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi menyebut kombinasi sentimen eksternal dan domestik masih menjadi faktor utama pelemahan rupiah. Dari sisi global, pasar tengah mencermati perkembangan hubungan Amerika Serikat dan Iran yang kembali memanas meski sempat mencapai kesepakatan gencatan senjata pada 17 Juni lalu.
“Ketidakpastian terkait apakah pembicaraan lanjutan AS-Iran akan benar-benar terjadi menunjukkan rapuhnya kesepakatan yang ada. Ini membuat pelaku pasar cenderung berhati-hati,” ujar Ibrahim dalam keterangannya, Selasa (30/6).
Ia menjelaskan, rencana pembicaraan di Doha masih dibayangi ketidakjelasan, terutama setelah pernyataan pejabat Iran yang menegaskan tidak ada agenda negosiasi dalam waktu dekat. Sementara itu, Presiden AS Donald Trump juga menyatakan bahwa pertemuan tersebut masih belum pasti terlaksana.
Situasi ini semakin kompleks dengan adanya pembahasan ulang jalur transit di Selat Hormuz, yang menjadi jalur vital distribusi minyak dunia. Ketegangan tersebut berpotensi kembali mengganggu pasokan energi global dan mendorong volatilitas pasar keuangan.
Selain faktor geopolitik, ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed juga kembali menguat. Hal ini seiring dengan sikap hawkish bank sentral AS dalam pertemuan Juni serta sinyal dari sejumlah pejabatnya yang membuka peluang kenaikan suku bunga lanjutan tahun ini.
Fokus pasar kini tertuju pada rilis data ketenagakerjaan AS, khususnya Nonfarm Payrolls (NFP) yang dijadwalkan rilis Kamis mendatang. Ekonom memperkirakan penambahan 114.000 lapangan kerja dengan tingkat pengangguran tetap di level 4,3%. Selain itu, data JOLTS dan indeks kepercayaan konsumen juga menjadi perhatian pasar dalam waktu dekat.
Dari dalam negeri, pelaku pasar masih menanti rilis data neraca perdagangan Mei di tengah kekhawatiran melemahnya surplus perdagangan. Hingga April 2026, surplus perdagangan kumulatif tercatat hanya sebesar US$5,64 miliar, jauh menurun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang masih di atas US$10 miliar.
Penyusutan surplus ini dinilai berpotensi memperlebar defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) yang pada kuartal I-2026 sudah mencapai sekitar US$4 miliar. Kondisi tersebut dapat meningkatkan tekanan terhadap rupiah apabila tidak diimbangi oleh arus masuk modal asing.
Selain itu, tekanan inflasi juga mulai mendekati batas atas target Bank Indonesia, terutama dipicu kenaikan harga pangan. Meski secara nasional masih terkendali, ketimpangan inflasi antarwilayah, khususnya di Sumatra menjadi perhatian karena dipengaruhi oleh faktor distribusi, cuaca, dan koordinasi produksi yang belum optimal.
Sentimen domestik juga tertekan oleh kekhawatiran pasar terhadap regulasi baru terkait obligasi dana investasi negara Danantara, yang memberikan kekebalan hukum bagi investor. Kebijakan ini memicu pertanyaan terkait transparansi dan tata kelola.
Ibrahim memperkirakan pergerakan rupiah pada perdagangan berikutnya akan cenderung fluktuatif namun tetap berada dalam tekanan.
“Untuk perdagangan besok, rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif namun berpotensi ditutup melemah di kisaran Rp17.900 hingga Rp17.950 per dolar AS,” jelasnya.
Tinggalkan Komentar
Komentar