Periskop.id - Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) melancarkan operasi gabungan rudal dan drone yang menargetkan sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat (AS) di Bahrain dan Kuwait, Rabu (8/7). Serangan itu merupakan respons langsung atas gempuran udara AS ke wilayah Iran sehari sebelumnya.

Dua fasilitas utama AS menjadi sasaran, yakni Pangkalan Bandar Salman di Bahrain yang berfungsi sebagai markas Armada Kelima Angkatan Laut AS, serta Pangkalan Udara Ali Al Salem di Kuwait. Dalam operasi yang sama, IRGC juga mengklaim berhasil menembak jatuh sebuah drone pengintai MQ-9 milik AS yang disebut tengah mencoba mengganggu jalannya operasi.

Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) sebelumnya menyatakan telah menyasar lebih dari 60 kapal cepat IRGC sebagai konsekuensi atas aksi Iran yang dinilai mengganggu pelayaran internasional. "Agresi yang tidak dapat dibenarkan oleh pasukan Iran merupakan pelanggaran serius terhadap gencatan senjata dan mengancam kebebasan navigasi," tulis CENTCOM dalam pernyataan resminya, Rabu (8/7).

Serangan IRGC langsung memicu sirene peringatan serangan udara di Bahrain dan Kuwait. Militer Kuwait menyatakan sistem pertahanan udaranya tengah menghadapi gempuran rudal dan drone dari pihak yang disebut sebagai "musuh."

Eskalasi ini bermula dari insiden di Selat Hormuz, di mana tiga kapal tanker komersial diserang. AS menuding Iran sebagai pelaku, lalu merespons dengan gelombang serangan militer ke wilayah Iran sekaligus mencabut izin yang sebelumnya memperbolehkan Teheran mengekspor minyak mentah ke pasar internasional. Pencabutan izin itu langsung mendorong harga minyak dunia melonjak lebih dari 3%.

Seorang pejabat AS mengungkapkan kepada Reuters bahwa sasaran serangan militer Washington meliputi sistem pertahanan udara Iran, sistem pengawasan pesisir, rudal permukaan-ke-udara, rudal jelajah antikapal, hingga lokasi peluncuran drone. Media pemerintah Iran melaporkan tidak ada korban jiwa dari kalangan sipil, meski sejumlah warga mengalami luka akibat serpihan proyektil yang menghantam dermaga komersial di Sirik.

Markas Pusat Khatam al-Anbiya, komando militer gabungan tertinggi Iran, mengecam serangan AS sebagai tindakan agresi terang-terangan dan memperingatkan akan memberikan respons keras. Teheran juga menegaskan tidak akan membiarkan campur tangan AS dalam pengelolaan Selat Hormuz.

Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf menuding AS melanggar kesepakatan gencatan senjata, tidak hanya melalui serangan militer terbaru, tetapi juga lewat pencabutan izin ekspor minyak serta sejumlah kebijakan lain yang dinilai merugikan Teheran. Kementerian Luar Negeri Iran turut menegaskan Washington harus bertanggung jawab atas seluruh konsekuensi yang timbul.

Di sisi lain, Qatar menuding Iran berada di balik serangkaian serangan terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz, termasuk kapal pengangkut gas alam cair (LNG) Al Rekayyat milik Qatar yang dilaporkan terkena serangan drone hingga memicu kebakaran di ruang mesin. Sebuah supertanker berbendera Arab Saudi bernama Wedyan juga dilaporkan mengalami kerusakan di perairan Oman, dengan penyebab yang masih dalam penyelidikan.

Kementerian Luar Negeri Iran menyebut tuduhan Qatar membingungkan dan menegaskan Teheran tetap menjalankan seluruh komitmennya. Namun, Iran mengingatkan kapal-kapal komersial tetap menghadapi risiko apabila melintas di jalur yang tidak dikoordinasikan terlebih dahulu dengan pihak Iran.

Konflik terbaru ini berlangsung setelah pemakaman besar-besaran Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei di Kota Qom. Khamenei beserta sejumlah anggota keluarganya dilaporkan tewas pada hari pertama perang. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menegaskan perundingan menuju kesepakatan permanen tidak akan dimulai selama ancaman terhadap Iran masih berlanjut.

Dalam kesepakatan sementara bulan lalu, Departemen Keuangan AS sempat memberikan izin kepada Iran untuk mengekspor minyak mentah dan produk petrokimia hingga 21 Agustus. Setelah izin itu dicabut, Iran hanya diberi waktu hingga 17 Juli untuk menyelesaikan transaksi yang masih berjalan.

"Era intimidasi dan pemerasan telah berakhir. Kami tidak akan menyerah," tulis Qalibaf melalui media sosial X.