Periskop.id - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) dibuka di zona merah pada Rabu pagi. Indeks terkoreksi 2,32 poin atau 0,04% ke level 5.984,18.

Pelemahan juga terpantau pada kelompok saham unggulan. Indeks LQ45, yang menghimpun 45 saham pilihan, turut tergerus 0,48 poin atau 0,08% ke posisi 594,44.

Koreksi pada LQ45 terbilang lebih dalam secara persentase dibanding IHSG. Meski selisihnya tipis, pola pelemahan terjadi serentak di kedua indeks sejak awal sesi perdagangan.

IHSG saat ini bertahan di kisaran 5.900-an. Level 5.984,18 menempatkan indeks belum jauh dari ambang 6.000.

Sementara itu, LQ45 di angka 594,44 juga masih berada di bawah level psikologis 600. Kedua indeks membuka perdagangan hari ini dengan tekanan yang relatif terbatas.

Sebelumnya, IHSG ditutup menguat di level 5,986.50 atau naik 1,19% pada perdagangan Selasa (7/7), di tengah volume dan nilai transaksi yang masih cenderung sepi. Faktor positif antara lain berasal dari usulan DPR yang mengurangi anggaran Program MBG untuk tahun 2027 serta data cadangan devisa Juni yang mengalami kenaikan dari level terendah selama dua tahun terakhir.

IHSG ditutup di atas level MA20 dan MACD masih menunjukkan minat beli. Namun beberapa sentimen negatif diperkirakan berpotensi memicu terjadinya profit taking.

“Diperkirakan IHSG berpotensi bergerak mixed pada kisaran 5.900-6.000,” ulas tim riset Phintraco Sekuritas, Rabu (8/7).

Cadangan devisa Indonesia meningkat menjadi US$145.6 miliar pada Juni 2026 dari US$144.9 miliar di Mei 2026 (7/7). Peningkatan moderat ini terutama didukung oleh penerimaan pajak dan jasa, yang lebih dari cukup untuk mengimbangi pembayaran utang luar negeri pemerintah dan langkah-langkah stabilisasi rupiah oleh Bank Indonesia.

Posisi cadangan devisa ini setara dengan 5.5 bulan impor atau 5.4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor. 

Sementara itu defisit APBN pada 1H26 sebesar Rp 196.5 triliun atau 0.76% dari PDB. Namun Menteri Keuangan memproyeksikan defisit APBN 2026 dapat mencapai Rp 734.3 triliun atau setara 2.85% dari PDB, lebih tinggi dibandingkan target yang sebesar Rp689.1 triliun atau 2.68% terhadap PDB.

Meski penerimaan pajak diproyeksikan tumbuh 20.5%, Pemerintah akan berupaya mempertahankan pertumbuhannya di kisaran 23% tanpa menaikkan tarif maupun menambah jenis pajak baru. Belanja negara diproyeksikan mencapai Rp3,942.4 triliun atau 102.6% dari pagu APBN. Proyeksi defisit APBN yang lebih lebar dari target tersebut berpotensi menjadi sentimen negatif.