periskop.id - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menilai penyakit campak di Indonesia kembali melonjak tajam pada tahun 2026 bulan Januari ini. Dibandingkan periode yang sama dalam tiga tahun terakhir, lonjakan tersebut menjadi alarm kewaspadaan walaupun angka kematian tetap rendah.
Plt. Dirjen Penanggulangan Penyakit Kemenkes, dr. Andi Saguni menegaskan kepada masyarakat untuk tidak panik, tetapi waspada mengenali gejala awal campak, seperti demam tinggi, batuk, piłek mata merah, dan munculnya ruam pada kulit.
Mencatat Jumlah Data Kasus Campak
Dr. Andi Saguni menginformasikan bahwa sepanjang 2025 tercatat total 63.769 kasus suspek campak di seluruh Indonesia dengan 11.094 kasus terkonfirmasi laboratorium dan 69 angka kematian (CFR 0,1%).
Masuk tahun 2026 sampai minggu ketujuh, tercatat jumlah suspek campak sebanyak 8.224 dengan 4 kasus meninggal dunia. CFR berada di angka 0,05%, lebih rendah dibandingkan dengan sejumlah negara maju maupun berkembang.
Kasus Super Campak Meningkatkan Risiko Penularan
Dr. Andi Saguni menginformasikan lonjakan kasus campak tidak hanya ada di dalam negeri, tetapi juga ada di sejumlah kawasan, seperti Asia Tenggara dan Pasifik Barat. Kondisi ini dinilai meningkatkan potensi penularan kasus campak seiring tingginya mobilitas perjalanan internasional.
Indonesia menerima notifikasi mekanisme dari International Health Regulations (IHR) terkait kasus campak pada warga negara asing asal Australia yang sempat berkunjung dan menetap sementara di wilayah Indonesia.
Sebagai langkah antisipasi, Kemenkes menyiapkan strategi penyebaran suspek campak.
Langkah Strategis Penyebaran Kasus Campak
Kemenkes menyiapkan empat langkah strategis untuk mengatasi penyebaran kasus campak, antara lain:
- Memperkuat sistem surveilans nasional, khususnya di daerah yang mengalami kejadian luar biasa (KLB) agar kasus dapat terdeteksi dan ditangani lebih cepat.
- Mempercepat pelaksanaan imunisasi rutin serta imunisasi kejar MR di wilayah dengan cakupan vaksinasi yang masih rendah guna meningkatkan kekebalan masyarakat.
- Melakukan isolasi terhadap pasien disertai penanganan medis yang sesuai standar, termasuk pemberian vitamin A untuk membantu mencegah komplikasi.
- Meningkatkan edukasi kepada masyarakat mengenai perilaku hidup bersih dan sehat, seperti memakai masker saat sakit, menjaga kebersihan tangan, serta rutin mencuci tangan dengan sabun.
Pemerintah meningkatkan kapasitas laboratorium dengan menyediakan 11 fasilitas pengujian menggunakan metode ELISA dan PCR. Selain itu, pemantauan kasus juga diperkuat melalui sistem pelaporan berbasis waktu nyata (real-time) lewat Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) sehingga potensi penyebaran penyakit dapat dideteksi dan ditangani lebih cepat.
Tinggalkan Komentar
Komentar