Periskop.id - Masalah harga pangan masih menjadi salah satu tekanan biaya hidup yang paling konsisten bagi rumah tangga di seluruh penjuru dunia.
Memasuki tahun 2026, tagihan belanja bahan makanan diperkirakan akan melonjak tajam di sejumlah negara, sementara di beberapa wilayah lain cenderung relatif stabil.
Melansir Visual Capitalist pada Jumat (27/2), proyeksi terbaru dari Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) menunjukkan bahwa inflasi pangan akan sangat bervariasi di 160 negara.
Fenomena ini mencakup lonjakan harga hingga dua digit di negara tertentu, hingga proyeksi penurunan harga di negara lainnya.
Negara dengan Kenaikan Harga Pangan Tertinggi
Tekanan inflasi yang paling kuat saat ini didominasi oleh negara berkembang dan negara yang memiliki ketergantungan tinggi pada impor.
Faktor utama yang memengaruhi inflasi pangan ini antara lain pergerakan nilai tukar mata uang, harga komoditas global, gangguan jalur perdagangan, serta kondisi pasokan domestik.
Negara yang mengalami pelemahan mata uang atau ketidakstabilan ekonomi cenderung menghadapi lonjakan harga bahan pokok yang jauh lebih ekstrem.
Berdasarkan data FAO, Iran berada di posisi teratas dengan proyeksi kenaikan harga pangan mencapai 55,9% secara tahunan. Tekanan inflasi berkepanjangan dan pelemahan mata uang di Iran diperkirakan masih akan berlanjut hingga 2026.
Berikut adalah daftar 10 negara dengan proyeksi inflasi pangan tahunan tertinggi pada 2026:
| Peringkat | Negara | Proyeksi Inflasi Pangan 2026 (%) |
|---|---|---|
| 1 | Iran | 55,9 |
| 2 | Argentina | 33,2 |
| 3 | Turki | 25,1 |
| 4 | Haiti | 24,1 |
| 5 | Malawi | 21,2 |
| 6 | Nigeria | 17,1 |
| 7 | Lebanon | 14,9 |
| 8 | Angola | 14,8 |
| 9 | Kazakhstan | 12,7 |
| 10 | Zambia | 10,8 |
Selain negara di atas, beberapa negara di Afrika Sub Sahara seperti Ethiopia juga diprediksi mengalami inflasi dua digit sebesar 10,1% akibat volatilitas mata uang dan gangguan pasokan.
Posisi Indonesia dan Kawasan ASEAN
Bagaimana dengan kondisi di Asia Tenggara? Secara umum, kawasan Asia Pasifik diperkirakan mengalami pertumbuhan harga pangan yang relatif moderat dibandingkan kawasan lain. Namun, di lingkup ASEAN, Indonesia menempati posisi yang cukup mencolok.
Proyeksi inflasi pangan Indonesia berada di peringkat kedua tertinggi di ASEAN, tepat di bawah Vietnam. Berikut adalah rincian proyeksi inflasi pangan di negara-negara Asia Tenggara untuk tahun 2026:
| Peringkat | Negara | Proyeksi Inflasi Pangan 2026 (%) |
|---|---|---|
| 1 | Vietnam | 3,6 |
| 2 | Indonesia | 2,8 |
| 3 | Laos | 2,6 |
| 4 | Malaysia | 1,7 |
| 5 | Thailand | 1,5 |
| 6 | Filipina | 1,0 |
| 7 | Singapura | 0,8 |
| 8 | Kamboja | (0,1) / Penurunan Harga |
Data menunjukkan bahwa Kamboja menjadi satu-satunya negara di ASEAN yang diproyeksikan mengalami deflasi atau penurunan harga pangan sebesar 0,1%.
Perbedaan Regional: Timur Tengah vs Amerika Utara
Meskipun rata-rata inflasi pangan global diperkirakan berada di angka 3,2%, rincian regional menunjukkan perbedaan yang sangat tajam. Kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara menjadi wilayah yang paling terdampak dengan tingkat inflasi hampir tiga kali lipat dari rata-rata global.
Di wilayah Amerika Utara, harga pangan diproyeksikan naik sebesar 4,3%. Amerika Serikat diperkirakan mengalami kenaikan sebesar 2,7%, sementara Kanada diprediksi akan menghadapi kenaikan yang jauh lebih berat, yakni lebih dari dua kali lipat angka inflasi Amerika Serikat.
Walaupun secara kumulatif inflasi pangan global berada di kisaran satu digit, situasi di lapangan menunjukkan ketidakmerataan yang nyata.
Bagi jutaan rumah tangga di negara dengan inflasi tinggi seperti Iran dan Argentina, belanja kebutuhan pokok akan tetap menjadi tekanan ekonomi terbesar dan paling nyata pada tahun mendatang.
Tinggalkan Komentar
Komentar