periskop.id - Program skrining kesehatan yang dilakukan pemerintah menemukan ratusan ribu anak dan remaja menunjukkan gejala gangguan kesehatan jiwa. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan temuan tersebut menjadi dasar bagi pemerintah untuk memperkuat penanganan dan perawatan kesehatan mental di Indonesia.
Budi menjelaskan skrining yang dilakukan melalui program cek kesehatan menemukan sekitar 700 ribu anak dan remaja memiliki indikasi masalah kesehatan mental, terutama gejala depresi dan kecemasan.
“Dari sekitar tujuh juta yang kita skrining, hampir 10% terindikasi memiliki masalah kesehatan jiwa. Sekitar 350 ribu mengalami gejala kecemasan dan sekitar 340 ribu mengalami gejala depresi,” kata Budi dalam konferensi pers di Gedung Kementerian Kesehatan, Jakarta, Selasa (10/3).
Menurut dia, temuan tersebut menunjukkan pentingnya upaya deteksi dini. Selama ini, banyak kasus kesehatan mental baru diketahui ketika kondisinya sudah berat atau berujung pada tindakan yang membahayakan diri.
Karena itu, pemerintah menempatkan proses penemuan kasus sebagai langkah pertama dalam penanganan masalah kesehatan jiwa. Setelah kasus teridentifikasi, langkah berikutnya adalah memastikan anak yang membutuhkan bantuan bisa mendapatkan perawatan yang memadai.
“Target pertama kita adalah menemukan kasusnya. Setelah ditemukan harus dirawat, dan setelah dirawat tujuannya adalah sembuh,” ujar Budi.
Ia menambahkan pemerintah kini mulai mengalihkan fokus dari sekadar menemukan kasus menjadi memastikan anak yang terdeteksi dapat memperoleh layanan konseling maupun pengobatan.
Menurut Budi, salah satu tantangan yang masih dihadapi adalah akses layanan kesehatan jiwa yang belum merata. Karena itu, Kementerian Kesehatan mendorong penguatan layanan di fasilitas kesehatan tingkat pertama, termasuk puskesmas, agar anak yang membutuhkan bantuan dapat segera ditangani tanpa harus menunggu terlalu lama.
“Sekarang kita pastikan yang sudah ditemukan ini benar-benar bisa mendapatkan perawatan, apakah bisa bertemu dokter atau konselor dan mendapatkan penanganan yang tepat,” katanya.
Selain layanan kesehatan, pemerintah juga berupaya memperkuat deteksi dini melalui lingkungan keluarga dan sekolah. Anak yang menunjukkan perubahan perilaku, seperti menarik diri atau mengalami penurunan prestasi, diharapkan dapat segera dikenali oleh orang tua maupun guru sehingga bisa mendapatkan bantuan lebih cepat.
Budi menegaskan pendekatan tersebut penting agar masalah kesehatan jiwa pada anak tidak berkembang menjadi kondisi yang lebih serius.
“Kalau bisa ditemukan lebih awal dan segera ditangani, peluang untuk pulih tentu jauh lebih besar,” ujarnya.
Tinggalkan Komentar
Komentar