periskop.id - Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI melalui Ketua DPR Puan Maharani mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa segera mengambil langkah nyata meredakan konflik militer antara Amerika Serikat dan Iran.
DPR meminta organisasi dunia tersebut mencegah kerusakan lebih luas demi menjaga stabilitas keamanan internasional.
Menyampaikan sikap resmi parlemen dalam Rapat Paripurna di Gedung DPR, Selasa (10/3), ia meminta keterlibatan aktif PBB menengahi situasi geopolitik terkini.
"DPR RI mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk mengambil peran serta bertindak dalam menjaga penghormatan terhadap hukum internasional, perlindungan terhadap masyarakat sipil, serta komitmen bersama menjaga perdamaian dan stabilitas global," katanya.
Selain melayangkan tuntutan ke dunia internasional, parlemen turut memberikan penegasan khusus kepada Pemerintah Indonesia. Negara harus terus berpegang teguh pada jalur diplomasi resmi dan menganut asas politik luar negeri bebas aktif.
"DPR RI juga menegaskan bahwa Pemerintah Republik Indonesia harus terus menjalankan politik luar negeri bebas aktif dalam menjaga kepentingan nasional secara bijaksana, konsisten, dan konstruktif dalam merespons dinamika geopolitik global yang berkembang," jelasnya.
Institusi legislatif ini menyuarakan dukungan penuh terhadap segala bentuk inisiatif perdamaian. Puan mendorong seluruh pihak meredakan ketegangan tanpa melalui jalan kekerasan bersenjata.
"DPR RI mendukung setiap upaya dan inisiatif diplomasi, baik yang dilakukan secara bilateral, regional, maupun multilateral untuk mendorong seluruh pihak dapat menahan diri dan menghindari eskalasi konflik yang lebih luas, mengedepankan penghormatan terhadap kedaulatan negara, serta menyelesaikan sengketa secara damai," ungkapnya.
Eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah memuncak tajam pascaserangan gabungan pada (28/2) lalu. Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangkaian operasi militer menyasar sejumlah target strategis di wilayah Iran.
Gempuran bersenjata ini menghantam langsung kawasan ibu kota Teheran. Insiden mematikan tersebut menimbulkan laporan kerusakan fasilitas hingga jatuhnya korban jiwa dari kalangan masyarakat sipil.
Televisi pemerintah Iran langsung mengeluarkan konfirmasi resmi terkait dampak fatal serangan tersebut. Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei dipastikan gugur dalam insiden gempuran militer ini.
Kematian pucuk pimpinan negara ini seketika memicu langkah balasan militer secara masif. Pasukan Iran meluncurkan rentetan serangan rudal balistik ke arah wilayah kedaulatan Israel.
Operasi pembalasan ini juga secara spesifik menargetkan berbagai fasilitas militer milik Amerika Serikat. Pangkalan-pangkalan militer sasaran rudal ini tersebar luas di penjuru kawasan Timur Tengah.
Pemerintah Iran menutup rapat pintu perundingan damai dengan pihak Amerika Serikat pascainsiden tersebut. Republik Islam ini secara tegas memilih melanjutkan permusuhan terbuka antarkedua belah pihak.
Tinggalkan Komentar
Komentar