periskop.id - Tekanan darah tinggi atau hipertensi kerap dianggap masalah kesehatan biasa. Padahal, kondisi ini dapat menjadi “perusak senyap” yang perlahan merusak fungsi ginjal hingga berujung gagal ginjal.

Dokter spesialis penyakit dalam, Dr. Pringgodigdo Nugroho, mengingatkan bahwa hipertensi termasuk salah satu penyebab utama gagal ginjal selain diabetes dan peradangan ginjal yang sering tidak terdeteksi sejak dini.

“Diabetes nomor satu, kemudian hipertensi, atau peradangan ginjal yang sering tidak terdeteksi pada usia muda,” kata Pringgodigdo dalam konferensi pers Hari Ginjal Sedunia di Hotel Borobudur, Jakarta, Kamis (12/3).

Ia menjelaskan, tekanan darah tinggi dapat merusak pembuluh darah kecil di ginjal yang berfungsi menyaring limbah dari dalam tubuh. Kerusakan yang berlangsung lama membuat kemampuan ginjal menurun secara bertahap hingga akhirnya memicu penyakit ginjal kronis.

Salah satu pemicu hipertensi yang sering luput disadari adalah pola makan tinggi garam, terutama dari makanan instan dan olahan.

“Makanan yang mengandung garam tinggi bisa menyebabkan hipertensi, dan hipertensi akhirnya bisa menyebabkan penyakit ginjal,” ujarnya.

Tak hanya pola makan, gaya hidup sedentari atau kurang aktivitas fisik juga turut meningkatkan risiko obesitas. Kondisi ini berkaitan erat dengan munculnya hipertensi dan diabetes yang pada akhirnya berdampak pada kesehatan ginjal.

Lebih lanjut, Pringgodigdo menekankan pentingnya memperhatikan perubahan pada urin sebagai salah satu tanda awal gangguan ginjal. Urin yang tampak berbusa, keruh, atau bahkan kemerahan dapat menjadi sinyal adanya masalah pada ginjal.

Menurutnya, urin berbusa bisa menandakan adanya kebocoran protein atau albumin dalam urin, sementara warna kemerahan dapat menunjukkan adanya darah yang berasal dari ginjal atau saluran kemih.

“Kalau kencing sudah berbusa, itu salah satu tanda kebocoran albumin di urin. Kalau warnanya kemerahan biasanya karena ada darah, bisa dari ginjal atau dari salurannya,” jelasnya.

Namun, yang menjadi tantangan, penyakit ginjal sering berkembang tanpa gejala pada tahap awal. Banyak pasien baru menyadari ketika kondisi sudah memasuki tahap gagal ginjal.

Karena itu, Pringgodigdo mengimbau masyarakat untuk tidak menunggu munculnya gejala. Pemeriksaan kesehatan, khususnya tes urin, sebaiknya dilakukan secara rutin setidaknya sekali dalam setahun.

“Lakukan pemeriksaan ginjal supaya tahu kondisi kesehatannya. Karena di awal biasanya tidak bergejala, kalau sudah bergejala berarti sering kali sudah terlambat,” katanya.

Ia menegaskan, langkah sederhana seperti mengontrol tekanan darah, mengurangi konsumsi garam, menjaga berat badan, serta rutin melakukan pemeriksaan kesehatan dapat menjadi kunci mencegah kerusakan ginjal sejak dini.