periskop.id - Varian Covid-19 BA.3.2 yang dikenal sebagai “Cicada” kini menjadi perhatian di berbagai negara.
Namun, Kementerian Kesehatan menegaskan bahwa sampai saat ini belum ada temuan kasus varian tersebut di Indonesia.
"Sampai saat ini (akhir Maret 2026), belum ditemukan varian tersebut di Indonesia. Varian dominan di Indonesia adalah XFG 57%, LF.7 29%, XFG 3.4.3 14% dengan risiko rendah," ujar Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes Aji Muhawarman di Jakarta, Kamis (2/4) dikutip dari Antara.
Sejumlah laporan media menyebutkan bahwa varian Covid-19 “Cicada” telah teridentifikasi di sekitar 20 negara serta sedikitnya 25 negara bagian di Amerika Serikat.
Apa yang Harus Diketahui Tentang Varian Covid-19 “Cicada”?
Varian Covid-19 “Cicada” adalah subvarian dari virus SARS-CoV-2 turunan Omicron dengan kode ilmiah BA.3.2.
Menurut data dari Centers for Disease Control and Prevention, varian ini pertama kali muncul pada November 2024 di Afrika Selatan.
Setelah kemunculannya, varian ini sempat jarang terdeteksi secara luas. Namun, sejak akhir 2025 hingga awal 2026, kasusnya mulai meningkat dan menyebar ke berbagai negara, menarik perhatian komunitas kesehatan global.
“Cicada” merupakan turunan dari Omicron yang memiliki jumlah mutasi sangat tinggi, yaitu sekitar 70-75 perubahan pada protein spike. Jumlah ini jauh lebih banyak dibandingkan varian lain seperti JN.1 dan LP.8.1 yang hanya memiliki 30-40 mutasi.
Varian ini juga masuk dalam kategori variant under monitoring oleh World Health Organization dan diduga memiliki kemampuan untuk menghindari sistem kekebalan tubuh (immune escape).
Seberapa Berisiko Varian Covid-19 “Cicada” ?
Walaupun varian “Cicada” memiliki mutasi yang cukup banyak, hingga kini belum terbukti dapat menimbulkan penyakit yang lebih serius dibandingkan varian Covid-19 sebelumnya.
Varian ini memang punya beberapa karakteristik penting, seperti kemampuan menghindari sistem kekebalan tubuh (immune escape) dan kemungkinan menular lebih cepat, tetapi tidak menunjukkan peningkatan risiko kematian.
Kenapa Disebut “Cicada”?
Nama “Cicada” bukanlah sebutan resmi dari World Health Organization, melainkan julukan yang digunakan di media. Menurut dr. Dicky Budiman, penamaan ini terinspirasi dari serangga cicada atau tonggeret.
Serangga ini hidup dengan cara yang unik, tinggal di bawah tanah untuk waktu yang lama sebelum muncul ke permukaan secara bersamaan.
Kenali Gejala Varian Covid-19 “Cicada”
Dari segi gejala, varian Covid-19 “Cicada” nggak berbeda jauh dibandingkan varian lainnya. Umumnya, gejala yang muncul terkait dengan infeksi pada saluran pernapasan atas.
Mendeteksi gejala sejak awal sangat penting agar penanganan bisa dilakukan lebih cepat. Beberapa gejala yang sering muncul pada orang yang terinfeksi varian ini, antara lain:
- Demam
- Batuk
- Kelelahan
- Sakit kepala
- Nyeri otot
- Pilek atau hidung tersumbat
- Bersin
- Sakit tenggorokan
- Penurunan indera penciuman atau perasa
Tinggalkan Komentar
Komentar