Periskop.id - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) resmi merilis edisi kedua dari "SHAKE the Salt Habit" pada Selasa (12/5).
Paket teknis ini dirancang untuk mendukung berbagai negara dalam mempercepat langkah menekan konsumsi garam berlebih, yang saat ini menjadi salah satu ancaman kesehatan global paling serius.
Mayoritas masyarakat di seluruh dunia kini mengonsumsi sodium dalam kadar tinggi karena hidup di lingkungan yang memicu kebiasaan tersebut.
SHAKE hadir sebagai solusi kebijakan terintegrasi berbasis bukti yang telah terbukti efektif dalam membantu pemerintah melindungi warga sekaligus menyelamatkan nyawa dari risiko penyakit kronis.
Urgensi Pengendalian
Saat ini, rata-rata asupan sodium penduduk dunia diperkirakan mencapai lebih dari dua kali lipat dari batas maksimal yang direkomendasikan oleh WHO.
Sebagai informasi, rekomendasi WHO adalah maksimal 2.000 mg sodium per hari, atau setara dengan 5 gram garam yang kira-kira seukuran satu sendok teh.
Tingginya asupan garam ini menjadi faktor pemicu utama hipertensi dan penyakit kardiovaskular secara global.
Data mencatat bahwa kondisi ini berkontribusi pada kematian 1,7 juta orang sepanjang tahun 2023. Tantangan kian berat karena lingkungan pangan saat ini dipenuhi makanan olahan, kemasan, hingga jajanan kaki lima yang mengandung kadar sodium sangat tinggi.
Dunia saat ini dinilai masih jauh dari target pengurangan sodium global sebesar 30% pada 2030. Hingga kini, baru sekitar 28% populasi dunia yang terlindungi oleh kebijakan wajib pengurangan sodium di negaranya masing-masing.
Peluncuran paket SHAKE terbaru ini pun dilakukan bertepatan dengan Salt Awareness Week 2026 guna merespons kebutuhan mendesak akan tindakan pemerintah yang lebih tegas.
Komitmen WHO dalam Melindungi Publik
Direktur Departemen Nutrisi dan Keamanan Pangan WHO, Luz Maria De Regil, menekankan pentingnya langkah ini melalui pernyataan resminya.
“Konsumsi garam berlebih masih menjadi salah satu penyebab kematian yang paling bisa dicegah di dunia. Penerapan kebijakan wajib untuk mengurangi asupan sodium merupakan salah satu langkah paling hemat biaya yang bisa dilakukan negara untuk melindungi masyarakat dari penyakit kardiovaskular,” kata De Regil, dikutip dari laman resmi WHO, Rabu (13/5).
Ia juga menambahkan bahwa panduan ini memberikan alat praktis bagi negara negara untuk mengambil tindakan nyata.
“Melalui pembaruan SHAKE the Salt Habit, WHO membekali negara-negara dengan alat praktis berbasis bukti untuk mengambil langkah tegas yang dipimpin pemerintah dan mencegah jutaan kematian setiap tahunnya,” lanjutnya.
Inovasi dalam Paket SHAKE Edisi Kedua
Edisi terbaru ini memberikan arahan langkah demi langkah yang lebih kuat dan mudah diaplikasikan untuk menurunkan konsumsi sodium masyarakat.
Paket ini menggabungkan alat praktis serta contoh sukses penerapan dari berbagai negara. Fokus utama SHAKE adalah pendekatan wajib yang dipimpin langsung oleh pemerintah.
Intervensi kesehatan global ini disusun secara sistematis berdasarkan akronim SHAKE yang mencakup lima pilar utama untuk menekan konsumsi garam berlebih.
Pilar pertama adalah Surveillance yang berfokus pada pengawasan asupan sodium secara berkala guna memantau perkembangan tren di masyarakat.
Selanjutnya, Harness industry menekankan pada pengendalian serta pelibatan aktif pihak industri dalam upaya pengurangan kandungan garam pada produk mereka.
Langkah ketiga, Adopt standards for labelling and marketing, menuntut penerapan standar yang ketat pada pelabelan informasi nilai gizi dan strategi pemasaran produk pangan.
Sementara itu, pilar Knowledge menitikberatkan pada pemberian edukasi berkelanjutan kepada masyarakat mengenai bahaya sodium bagi kesehatan.
Terakhir, aspek Environment bertujuan untuk menciptakan lingkungan pangan yang lebih sehat agar pilihan makanan rendah garam menjadi lebih mudah diakses oleh publik.
Pembaruan ini juga mencakup panduan tegas mengenai pengelolaan konflik kepentingan dengan industri makanan. WHO menegaskan bahwa kebijakan kesehatan publik tidak boleh ditentukan oleh pelaku industri.
Panduan ini memberikan cara mengatur produk berbahaya dengan sodium tambahan yang tinggi, serta strategi menghadapi argumen umum dari pihak industri.
Koordinator Unit Promosi Kesehatan dan Kebijakan WHO Regional Pasifik Barat, Xi Yin, menyatakan bahwa panduan ini menawarkan peluang besar untuk memperluas pendekatan wajib di kawasannya.
“Panduan ini memberikan arahan yang jelas langkah demi langkah dan peluang besar untuk memperluas pendekatan wajib dalam menurunkan konsumsi garam yang masih tinggi di kawasan,” ujarnya.
Rekomendasi Langkah Konkret untuk Negara
WHO mendesak pemerintah di berbagai negara untuk segera mengimplementasikan serangkaian intervensi "best buys" guna menekan konsumsi sodium global. Langkah konkret tersebut dimulai dengan reformulasi makanan melalui penetapan batas maksimal kandungan sodium pada produk pangan kemasan.
Selain itu, pemerintah didorong untuk menerapkan kebijakan pelabelan bagian depan kemasan atau front-of-pack labelling (FOPL) guna memberikan informasi kandungan sodium yang transparan kepada konsumen.
Kebijakan pengadaan dan layanan makanan di fasilitas publik juga perlu diperketat untuk membatasi ketersediaan produk tinggi garam.
Perlindungan terhadap anak-anak menjadi prioritas melalui pembatasan pemasaran makanan tidak sehat, yang didukung dengan penerapan instrumen fiskal berupa pajak pada produk pangan yang membahayakan kesehatan.
Untuk mengubah kebiasaan masyarakat, kampanye komunikasi massa mengenai perubahan perilaku harus dilakukan secara berkelanjutan. Terakhir, penggunaan pengganti garam rendah sodium (lower-sodium salt substitutes/LSSS) dapat diterapkan sebagai alternatif pada kondisi-kondisi tertentu.
Tinggalkan Komentar
Komentar