periskop.id – Direktur Operasi Peringatan dan Respons Darurat Kesehatan WHO, Abdirahman Mahamud mengatakan, wabah hantavirus pada kapal pesiar MV Hondius di Samudra Atlantik diperkirakan tidak berkembang menjadi epidemi besar.
Menurutnya, kondisi ini dipicu oleh pola interaksi yang sangat spesifik dan berbeda dari karakteristik pandemi COVID-19.
"Ini adalah lingkungan spesifik dan terbatas, tempat orang-orang berinteraksi dalam kontak dekat berkepanjangan," kata Abdirahman Mahamud kepada wartawan di Jenewa, Kamis (7/5).
WHO meyakini pengalaman negara anggota dalam menangani virus serupa mampu memutus rantai penyebaran. Langkah mitigasi yang telah diambil sejauh ini dinilai cukup efektif meredam risiko penularan lebih luas.
"Kami percaya wabah ini tak akan menyebabkan rantai penularan lanjutan," kata Mahamud.
Pejabat kesehatan sejauh ini mengonfirmasi lima kasus terkait virus Andes di atas kapal pesiar MV Hondius. Strain hantavirus ini secara medis diketahui hanya menular antarmanusia melalui kontak fisik yang sangat erat dalam durasi lama.
Abdirahman menuturkan, hasil diagnosa para pasien telah tervalidasi melalui pengujian laboratorium di Afrika Selatan dan Swiss. Penemuan ini memicu protokol kesehatan ketat bagi seluruh awak dan penumpang yang terlibat dalam perjalanan tersebut.
Mahamud menekankan pasien terinfeksi wajib menjalani isolasi total guna mencegah penyebaran. Sementara itu, individu yang sempat terpapar harus melalui masa pemantauan aktif selama 42 hari sesuai standar prosedur kesehatan internasional.
Penerapan teknis pemantauan tersebut diserahkan kepada kebijakan masing-masing negara yang terdampak. Beberapa otoritas mungkin menerapkan karantina institusional, sedangkan sisanya hanya mewajibkan laporan kesehatan harian kepada petugas medis.
Direktur WHO untuk Kesiapsiagaan dan Pencegahan Epidemi serta Pandemi, Maria Van Kerkhove menegaskan struktur virus ini tidak menyerupai SARS-CoV-2. Masyarakat diminta tidak panik karena mekanisme infeksinya tidak semudah virus corona yang menyebar lewat udara secara masif.
"Ini bukan SARS-CoV-2. Ini bukan awal pandemi COVID. Penyebarannya tidak sama seperti virus corona," katanya.
Mayoritas kasus hantavirus pada dasarnya bersumber dari hewan pengerat melalui cairan tubuh seperti air liur, urine, hingga kotoran. Transmisi dari manusia ke manusia termasuk kategori peristiwa medis yang sangat jarang ditemukan.
Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus mengungkapkan pihaknya telah berkoordinasi dengan 12 negara yang warganya berada di kapal tersebut.
Para penumpang diketahui sempat turun di wilayah Saint Helena sebelum kasus terdeteksi.
Negara-negara yang mendapatkan peringatan tersebut meliputi Kanada, Denmark, Jerman, Belanda, Selandia Baru, dan Singapura. Selain itu, terdapat pula Saint Kitts dan Nevis, Swedia, Swiss, Turkiye, Inggris, serta Amerika Serikat.
Dua kasus pertama memiliki riwayat perjalanan melalui Argentina, Chile, dan Uruguay sebelum mereka menaiki kapal pesiar. Mereka sempat mengunjungi lokasi pengamatan burung yang diidentifikasi sebagai habitat tikus pembawa virus Andes.
Saat ini kapal MV Hondius sedang berlayar menuju Kepulauan Canary setelah mengantongi izin masuk dari pemerintah Spanyol. WHO menilai risiko penyebaran virus di lokasi tujuan tersebut masih berada pada level rendah.
Tinggalkan Komentar
Komentar