periskop.id - Kucing selama ini dikenal sebagai salah satu hewan peliharaan paling populer di dunia. Tingkah lakunya yang unik, sifatnya yang mandiri, dan kemampuannya menjadi teman bagi banyak orang membuat jutaan rumah tangga memilih memelihara kucing.
Namun sebuah kajian ilmiah kembali memunculkan pertanyaan lama yang cukup kontroversial: apakah memelihara kucing dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami skizofrenia atau gangguan psikosis?
Pertanyaan tersebut mencuat setelah sebuah artikel yang mengulas hasil meta-analisis terhadap 17 penelitian dari 11 negara menyebut adanya hubungan positif antara kepemilikan kucing dan meningkatnya risiko gangguan yang berkaitan dengan skizofrenia.
Kajian tersebut dilakukan oleh tim peneliti dari Queensland Centre for Mental Health Research di Australia dan diterbitkan dalam jurnal ilmiah Schizophrenia Bulletin.
Para peneliti meninjau publikasi yang terbit selama lebih dari empat dekade. Setelah menggabungkan berbagai data yang tersedia, mereka menemukan bahwa individu yang pernah terpapar kucing memiliki kemungkinan sekitar dua kali lebih besar mengalami gangguan terkait skizofrenia dibandingkan kelompok yang tidak terpapar.
Namun para penulis juga menekankan bahwa temuan tersebut hanya menunjukkan adanya hubungan statistik, bukan bukti bahwa kucing secara langsung menyebabkan skizofrenia.
Dugaan Peran Parasit Toxoplasma gondii
Pembahasan mengenai kucing dan skizofrenia sebenarnya bukan hal baru. Hipotesis ini sudah muncul sejak pertengahan 1990-an. Fokus utama para peneliti tertuju pada parasit bernama Toxoplasma gondii, organisme mikroskopis yang dapat berkembang biak pada tubuh kucing dan menyebar melalui kotorannya.
Infeksi Toxoplasma gondii atau toksoplasmosis umumnya tidak menimbulkan gejala serius pada orang sehat. Namun sejumlah penelitian menunjukkan bahwa parasit ini mampu memasuki sistem saraf pusat dan berpotensi memengaruhi neurotransmiter di otak.
Karena alasan inilah toksoplasmosis telah lama diteliti sebagai salah satu faktor lingkungan yang mungkin berkontribusi terhadap munculnya gangguan kejiwaan tertentu, termasuk skizofrenia.
Menariknya, manusia tidak hanya dapat tertular melalui kucing. Konsumsi daging yang kurang matang, air yang terkontaminasi, atau makanan yang terpapar parasit juga menjadi jalur penularan yang diketahui para ilmuwan.
Karena itu, hubungan antara kepemilikan kucing dan gangguan mental jauh lebih kompleks dibanding sekadar keberadaan hewan peliharaan di rumah.
Beberapa studi yang dianalisis menunjukkan bahwa paparan kucing pada masa kanak-kanak mungkin memiliki kaitan yang lebih kuat dengan risiko gangguan psikosis di kemudian hari. Namun, hasil penelitian tidak selalu konsisten.
Ada penelitian yang tidak menemukan hubungan signifikan antara kepemilikan kucing sebelum usia 13 tahun dengan skizofrenia saat dewasa. Sebaliknya, penelitian lain menemukan hubungan ketika periode paparan dipersempit pada rentang usia tertentu, misalnya antara 9 hingga 12 tahun.
Ketidakkonsistenan ini menunjukkan bahwa ilmuwan masih belum memahami secara pasti kapan dan bagaimana faktor risiko tersebut bekerja.
Gigitan Kucing Juga Menarik Perhatian Peneliti
Selain kepemilikan kucing secara umum, beberapa studi meneliti dampak gigitan kucing terhadap kesehatan mental.
Melansir Science Alert, dalam salah satu penelitian yang melibatkan mahasiswa psikologi di Amerika Serikat, kepemilikan kucing tidak menunjukkan hubungan yang jelas dengan skor kecenderungan psikosis. Akan tetapi, peserta yang pernah mengalami gigitan kucing cenderung memperoleh skor lebih tinggi pada pengukuran tertentu.
Meski demikian, para peneliti mengingatkan bahwa hasil tersebut belum tentu berkaitan dengan Toxoplasma gondii. Bakteri lain yang dapat ditularkan melalui gigitan hewan, seperti Pasteurella multocida, juga diduga dapat berperan sehingga penyebab pastinya masih belum diketahui.
Mengapa Temuan Ini Masih Diperdebatkan?
Salah satu alasan utama kehati-hatian para ilmuwan adalah kualitas bukti yang tersedia. Dari 17 penelitian yang dianalisis, sebagian besar menggunakan desain case-control, yaitu metode yang dapat menemukan hubungan tetapi tidak mampu membuktikan sebab-akibat secara langsung.
Selain itu, sejumlah studi dinilai memiliki kualitas metodologi yang rendah dan belum sepenuhnya mengendalikan faktor-faktor lain yang dapat memengaruhi hasil.
Perdebatan yang sama juga terlihat dalam diskusi komunitas ilmiah dan publik. Banyak pengamat menekankan prinsip penting dalam penelitian kesehatan: korelasi tidak selalu berarti kausalitas. Dengan kata lain, meskipun dua hal tampak berhubungan, belum tentu salah satunya menjadi penyebab yang lain.
Skizofrenia sendiri merupakan gangguan mental serius yang memengaruhi cara seseorang berpikir, merasakan, dan memahami realitas.
Organisasi kesehatan dunia memperkirakan sekitar 24 juta orang di dunia hidup dengan kondisi ini. Faktor penyebabnya sangat beragam, mulai dari genetika, perkembangan otak, kondisi kehamilan, infeksi tertentu, hingga berbagai faktor lingkungan.
Karena itu, para ahli menilai tidak tepat jika seluruh risiko dikaitkan hanya dengan kepemilikan kucing. Bahkan jika hubungan tersebut terbukti nyata pada penelitian mendatang, kemungkinan besar kucing hanyalah salah satu dari sekian banyak faktor yang berkontribusi terhadap risiko seseorang mengalami gangguan kejiwaan.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar