Periskop.id - Krisis kesehatan global tidak selalu berwujud penyakit menular yang menyebar dalam sekejap mata. Di balik bayang-bayang penuaan populasi dunia, terdapat ancaman sunyi yang terus menggerogoti kualitas hidup puluhan juta manusia, yaitu demensia. 

Berdasarkan data terbaru yang dirilis oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), penyakit penurunan fungsi kognitif ini telah menjadi salah satu tantangan terbesar bagi sistem kesehatan modern, terutama di wilayah-wilayah dengan kesiapan ekonomi yang masih terbatas.

Demensia sendiri merupakan sebuah kondisi medis yang disebabkan oleh adanya gangguan atau penyakit pada organ otak. Dampak dari kerusakan ini secara perlahan akan memengaruhi daya ingat, kemampuan berpikir jernih, hingga mengganggu kemampuan mendasar seseorang untuk dapat berfungsi dan beraktivitas secara normal sehari-hari. 

Di luar aspek penurunan kesehatan fisik, serangan demensia secara nyata juga merenggut kemandirian, mencederai martabat, serta mengancam keselamatan personal dari para penderitanya.

Angka Kejadian yang Tinggi di Negara Berkembang

Skala penyebaran kondisi ini di tingkat global sudah berada pada tahap yang sangat memprihatinkan. WHO mencatat bahwa saat ini terdapat lebih dari 57 juta orang yang hidup dengan demensia di seluruh penjuru dunia. 

Angka kumulatif ini diprediksi akan terus melonjak tajam mengingat hampir 10 juta orang diidentifikasi mendapatkan diagnosis kasus baru pada setiap tahunnya.

Ketimpangan sosial dan ekonomi juga terlihat jelas dalam peta persebaran penyakit ini. Dari total puluhan juta penderita yang tercatat, lebih dari 60% di antaranya ternyata tinggal dan menetap di negara-negara dengan tingkat pendapatan rendah dan menengah. 

Di dalam spektrum penyakit ini sendiri, Alzheimer muncul sebagai jenis atau bentuk demensia yang paling umum ditemui di lapangan, dengan estimasi cakupan mencapai 60% hingga 70% dari keseluruhan total kasus yang ada.

Pencegahan Demensia

Hingga detik ini, dunia kedokteran belum berhasil menemukan metode pengobatan yang secara luas dapat diakses untuk mengubah perjalanan penyakit ataupun menyembuhkan demensia secara total. 

Oleh karena itu, paradigma penanganan harus digeser secara radikal. Strategi intervensi dini dan pencegahan sepanjang perjalanan hidup manusia kini menjadi satu-satunya senjata paling efektif untuk menurunkan angka kejadian serta menekan laju pertumbuhan kasus baru di masa depan.

Optimisme baru muncul dari pernyataan resmi WHO yang menyebutkan bahwa sebenarnya terdapat hingga 45% risiko demensia yang dapat dikaitkan langsung dengan faktor-faktor risiko eksternal yang dapat dimodifikasi atau diubah melalui gaya hidup. 

Angka persentase yang hampir mencapai setengah dari total risiko ini memberikan peluang besar bagi masyarakat untuk mengambil kendali penuh atas kesehatan otak mereka. Beberapa faktor risiko yang dapat diintervensi sejak dini demi menjaga kesehatan kognitif meliputi

  • Menghindari dan menghentikan konsumsi tembakau serta penggunaan alkohol.
  • Mencegah terjadinya isolasi sosial dengan tetap aktif berinteraksi di lingkungan masyarakat.
  • Meningkatkan aktivitas fisik secara rutin dan menghindari paparan polusi udara yang buruk.
  • Mengontrol dan mengobati penyakit tidak menular (PTM) sejak dini, terutama kondisi tekanan darah tinggi dan diabetes.

Guna memberikan panduan praktis yang terstandarisasi bagi masyarakat dunia, WHO telah merilis dokumen pedoman komprehensif terbaru mengenai langkah-langkah pengurangan risiko penurunan kognitif dan demensia. 

Seluruh panduan medis ini dapat diakses secara bebas oleh publik melalui situs resmi mereka di https://www.who.int/publications/i/item/9789240123557.