Periskop.id - Kekayaan kuliner tradisional Indonesia terus berkembang pesat berkat sentuhan inovasi modern. Salah satu jajanan pasar yang sukses mencuri perhatian publik dalam beberapa tahun terakhir adalah kue pancong lumer. 

Modifikasi dari kue tradisional ini sengaja disajikan dengan tingkat kematangan yang tak sempurna agar memberikan sensasi adonan yang meleleh dan memanjakan lidah saat disantap.

Namun, di balik popularitas dan kelezatan teksturnya yang menggoda, pancong lumer menyimpan potensi bahaya tersembunyi bagi kesehatan tubuh manusia. Struktur adonan yang dimasak setengah matang ini menjadi titik kritis yang patut diwaspadai oleh para pencinta kuliner.

Ancaman Bakteri Salmonella

Faktor utama yang mendasari mengapa kue pancong lumer atau pancong setengah matang dinilai kurang sehat terletak pada penggunaan telur di dalam adonannya. Komponen telur yang tak melalui proses pemanasan atau pemasakan secara sempurna menjadi media utama penyebaran penyakit.

Menurut Badan Standar Makanan Inggris (UK Food Standards Agency), bahan pangan seperti telur memang sangat rentan terkontaminasi oleh bakteri Salmonella. 

Mikroorganisme berbahaya ini memiliki daya tahan tertentu dan baru bisa dipastikan mati secara instan apabila dipanaskan pada suhu minimal 75 derajat Celsius. 

Ketika adonan kue pancong sengaja diangkat dari cetakan dalam kondisi masih cair dan lumer, suhu di dalam adonan tersebut besar kemungkinan belum mencapai batas aman untuk melumpuhkan bakteri.

Dampak Infeksi Saluran Pencernaan bagi Tubuh

Menurut penjelasan resmi dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), masuknya bakteri Salmonella ke dalam tubuh manusia melalui konsumsi makanan yang terkontaminasi atau kurang matang dapat memicu infeksi serius pada saluran pencernaan. Kondisi medis akibat serangan bakteri ini dikenal secara ilmiah dengan istilah Salmonellosis.

Seseorang yang terserang infeksi ini umumnya akan mengalami serangkaian gejala klinis yang mengganggu kenyamanan fisik. Beberapa gejala yang paling sering muncul akibat infeksi saluran pencernaan ini meliputi

  • Penderita mengalami diare dan rasa mual yang mengganggu.
  • Munculnya muntah-muntah disertai dengan demam tinggi pada tubuh.
  • Timbulnya rasa kram yang hebat pada bagian perut.

Meskipun gejala tersebut bisa berakibat fatal bagi siapa saja, WHO memberikan catatan khusus bahwa terdapat kelompok masyarakat tertentu yang memiliki tingkat risiko jauh lebih tinggi untuk mengalami komplikasi penyakit yang berat. 

Golongan rentan ini mencakup anak-anak, ibu hamil, kelompok lanjut usia atau lansia, serta individu yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah.

Melihat adanya risiko kesehatan yang cukup besar, paradigma masyarakat dalam mengonsumsi jajanan ini sudah saatnya diubah. 

Guna mencegah berbagai potensi penyakit pencernaan, langkah paling bijak yang sangat disarankan adalah dengan selalu memilih dan mengonsumsi makanan yang dimasak hingga matang sempurna, termasuk dalam hal ini memastikan kue pancong yang Anda beli telah melalui proses masak yang sempurna hingga matang ke bagian dalamnya.