Periskop.id – PT Indonesia Infrastructure Finance (IIF) menghimpun pendanaan baru senilai Rp655,5 miliar melalui penerbitan obligasi dan surat berharga perpetual. Sebanyak 83% instrumen tersebut diserap perusahaan manajemen aset dan asuransi, menandakan dominasi investor institusi dalam penerbitan kali ini.
Pendanaan baru itu disiapkan untuk memperkuat kapasitas IIF dalam menyediakan pembiayaan, layanan konsultasi, serta mitigasi risiko bagi proyek infrastruktur berkelanjutan. Penguatan pendanaan berlangsung bersamaan dengan tiga penghargaan internasional yang diterima perusahaan dalam rentang 25 Juni hingga 9 Juli 2026.
Obligasi Ditawarkan dalam Tiga Tenor
Dari total dana yang dihimpun, sebesar Rp435,5 miliar berasal dari obligasi dengan tenor satu, tiga, dan lima tahun. Rata-rata kupon yang ditawarkan sekitar 7,4% per tahun.
IIF juga menerbitkan surat berharga perpetual senilai Rp220 miliar dengan imbal hasil 8% per tahun. Selain perusahaan manajemen aset dan asuransi, instrumen tersebut dibeli korporasi, investor ritel, dana pensiun, serta perbankan.
Presiden Direktur sekaligus Chief Executive Officer IIF Rizki Pribadi Hasan mengatakan, tambahan pendanaan tersebut akan digunakan untuk memperluas kemampuan perusahaan dalam melayani pemilik dan pengembang proyek infrastruktur. ia menyebut, penghargaan internasional dan pendanaan baru ini akan membantu IIF meningkatkan layanan kepada klien serta memberikan dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kualitas hidup masyarakat.
“Hal ini menjadi penyemangat bagi IIF untuk terus mendukung Pemerintah, sponsor proyek, pemberi pinjaman, dan investor dalam merealisasikan proyek infrastruktur yang memberikan manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan bagi masyarakat,” tuturnya dikutip Selasa (14/7).
Penghargaan Soroti ESG dan Pembiayaan Syariah
Sebagai informasi, IFF di bulan Juli ini menerima sejumlah penghargaan global. Penghargaan pertama berasal dari FinanceAsia Awards 2026 untuk kategori The Biggest Sustainable Impact – Nonbank Financial Institution. Daftar pemenang resmi FinanceAsia menempatkan Indonesia Infrastructure Finance sebagai pemenang kategori tersebut untuk kelompok perusahaan domestik Indonesia.
Pengakuan itu diberikan atas pembiayaan infrastruktur berwawasan iklim, penerapan perlindungan lingkungan dan sosial, perluasan akses masyarakat terhadap layanan dasar, serta penguatan tata kelola lingkungan, sosial, dan perusahaan atau ESG.
Penghargaan berikutnya berasal dari Asian Banking and Finance Corporate and Investment Banking Awards 2026 untuk kategori Innovative Deal of the Year. IIF memperoleh penghargaan itu setelah mendukung transaksi sekuritisasi infrastruktur syariah pertama di Indonesia melalui Kontrak Investasi Kolektif Efek Beragun Aset Syariah atau KIK EBA Syariah milik klien di sektor jalan tol.
Sebagai konteks, Laporan Tahunan IIF 2025 mencatat partisipasi perusahaan dalam pembelian KIK EBA Syariah BRI-MI Jakarta Lingkar Baratsatu senilai Rp400 miliar. Skema tersebut menawarkan jalur pendanaan alternatif dengan mengubah arus kas aset infrastruktur menjadi efek berbasis prinsip syariah yang dapat ditawarkan kepada investor.
Penghargaan ketiga diberikan Asian Development Bank melalui ADB 2025 Project Implemented Award for Outstanding Social Safeguard Implementation. Pengakuan ini berkaitan dengan pelaksanaan program Leveraging Private Infrastructure Investment senilai US$50 juta. Program ADB tersebut dirancang untuk memperluas pembiayaan jangka panjang bagi sektor infrastruktur melalui IIF.
IIF juga masuk dalam lima perusahaan terbaik pada kategori Environmental & Social Risk Management Pioneer Award di ASEAN Risk Awards 2026. Kategori itu menilai penerapan pengelolaan risiko lingkungan dan sosial dalam kegiatan usaha.
Rizki menyebut posisi IIF bukan untuk menggantikan perbankan atau pasar modal, melainkan melengkapi sumber pembiayaan yang telah tersedia. Menurutnya, IIF memposisikan diri sebagai pelengkap bagi industri keuangan dan pasar modal.
"Peran kami adalah membantu memobilisasi modal swasta untuk berpartisipasi dalam pertumbuhan pembangunan infrastruktur berkelanjutan di Indonesia, termasuk pada sektor konektivitas, infrastruktur digital, dan kesehatan, IIF bermitra dengan berbagai pelaku usaha, regulator, investor domestik dan asing, serta lembaga khusus yang dibentuk Pemerintah untuk mempercepat pertumbuhan. IIF juga berperan sebagai mitra yang andal dan terpercaya bagi investasi langsung asing”, beber Rizki.
Sebelumnya Raih Pendanaan Rp1,3 Triliun
Sejatinya, tambahan dana Rp655,5 miliar melanjutkan strategi diversifikasi pendanaan yang dijalankan IIF. Sebelumnya IIF juga memperoleh fasilitas pendanaan Rp1,3 triliun dari lembaga keuangan domestik dan internasional.
Pada saat itu, IIF juga menyebut telah membiayai lebih dari 150 proyek infrastruktur berkelanjutan selama 16 tahun beroperasi. Pendanaan tersebut diarahkan untuk memperluas dukungan terhadap proyek yang sejalan dengan prinsip keberlanjutan dan transisi menuju ekonomi rendah karbon.
“Kami mengapresiasi kepercayaan yang kuat dari lembaga keuangan domestik maupun internasional. Fasilitas ini mencerminkan meningkatnya keyakinan terhadap sektor infrastruktur Indonesia,” kata Rizki.
IIF juga menuntaskan penerbitan obligasi senilai Rp1,5 triliun pada November 2025. Permintaan terhadap obligasi itu tercatat lebih dari enam kali nilai yang ditawarkan, dengan investor berasal dari perusahaan asuransi, manajemen aset, dana pensiun, perbankan, dan kelompok ritel.
Modal Swasta Dibutuhkan Tutup Kesenjangan Pembiayaan
Asal tahu saja, peran lembaga pembiayaan dan investor swasta semakin dibutuhkan karena nilai investasi infrastruktur nasional jauh lebih besar dibandingkan kemampuan pendanaan pemerintah.
Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian mencatat kebutuhan investasi infrastruktur dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2025–2029 mencapai lebih dari Rp10.303 triliun. Keterbatasan APBN dan APBD membuat pembiayaan kreatif, pasar modal, serta keterlibatan swasta menjadi bagian penting dalam pemenuhan kebutuhan tersebut.
IIF merupakan lembaga keuangan swasta nonbank yang didirikan pada 2010 atas inisiatif pemerintah bersama lembaga keuangan internasional. Pemegang sahamnya saat ini meliputi PT Sarana Multi Infrastruktur, ADB, International Finance Corporation, DEG, dan Sumitomo Mitsui Banking Corporation.
Dengan pendanaan baru tersebut, IIF menyatakan akan meningkatkan solusi pembiayaan, layanan konsultasi, dan pengelolaan risiko untuk proyek di sektor konektivitas, infrastruktur digital, kesehatan, serta bidang prioritas lainnya.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar