Periskop.id - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup menguat 113,48 poin atau 1,92% ke posisi 6.037,84 pada Senin sore. Penguatan ini terjadi setelah S&P Global Ratings mempertahankan peringkat utang Indonesia di level "BBB" dengan outlook "Stabil".
Kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turut terkerek 13,12 poin atau 2,23% ke posisi 602,37. Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim menjelaskan, penegasan peringkat kredit jangka panjang Indonesia di BBB dan jangka pendek di A-2 oleh S&P menjadi pemicu utama penguatan pasar.
"Sentimen positif berasal dari S&P Global Ratings yang menegaskan peringkat kredit jangka panjang Indonesia pada BBB dan jangka pendek pada A-2. Prospek peringkat jangka panjang masih dipertahankan di Stabil. Hal ini direspon positif oleh pasar yang sebelumnya khawatir jika peringkat atau prospek Indonesia diturunkan," kata Ratna Lim dalam ulasannya, Senin (13/7)
S&P Global Ratings menilai pelemahan posisi fiskal dan eksternal Indonesia bersifat sementara. Lembaga itu memproyeksikan kondisi tersebut berpotensi membaik seiring kenaikan harga komoditas dan upaya pemerintah menggenjot penerimaan negara.
Prospek stabil yang diberikan S&P mencerminkan ekspektasi penerimaan negara akan terus pulih tahun ini. Penerimaan ekspor juga diperkirakan meningkat seiring penguatan harga komoditas global.
S&P memperkirakan pemerintah Indonesia akan tetap menjaga batas defisit APBN di angka 3% dari produk domestik bruto (PDB) sebagai jangkar utama kebijakan fiskal. Lembaga pemeringkat itu juga memproyeksikan ekonomi Indonesia masih mampu tumbuh 5,1% pada 2026, sebelum mencatatkan pertumbuhan rata-rata 4,9% per tahun sepanjang 2026-2029.
Proyeksi pertumbuhan tersebut ditopang belanja fiskal, program hilirisasi, serta penguatan pengelolaan sektor sumber daya alam. Dari sisi global, sentimen pasar dipengaruhi meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, dengan kenaikan harga minyak yang membuat tekanan inflasi dan ekspektasi kenaikan suku bunga tetap jadi perhatian.
Ketegangan itu muncul seiring serangan baru Amerika Serikat terhadap Iran, menyusul ketidakpastian seputar status Selat Hormuz yang membuat pasar tetap waspada. Pelaku pasar kini menunggu data inflasi AS pekan ini untuk melihat arah kebijakan moneter The Fed selanjutnya.
Pasar saat ini memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga satu kali sebelum akhir tahun. Risalah pertemuan Fed Juni 2026 menunjukkan beberapa pembuat kebijakan melihat alasan untuk menaikkan suku bunga, meski akhirnya mendukung kebijakan tetap tidak berubah.
Ketua The Fed Kevin Warsh dijadwalkan tampil pertama kalinya di hadapan Kongres AS pada Selasa dan Rabu pekan ini. IHSG sendiri sempat dibuka menguat dan bertahan di teritori positif sejak sesi pertama hingga penutupan perdagangan.
Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, sembilan sektor menguat dipimpin sektor energi yang naik 2,50%, diikuti sektor barang baku dan sektor industri yang masing-masing naik 2,41% dan 1,79%. Sementara dua sektor melemah, yakni sektor kesehatan turun paling dalam sebesar 0,40% dan sektor barang konsumen primer turun 0,15%.
Saham-saham dengan penguatan harga terbesar meliputi BKDP, LAND, VKTR, PRDL, dan ATAP. Sebaliknya, saham-saham dengan pelemahan harga terbesar tercatat pada BAPA, JELI, RBMS, RANS, dan GRPM.
Frekuensi perdagangan saham tercatat 2.676.000 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 25,10 miliar lembar senilai Rp12,14 triliun. Sebanyak 392 saham naik, 268 saham menurun, dan 305 tidak bergerak nilainya.
Bursa saham regional Asia sore ini bergerak variatif. Indeks Nikkei melemah 1,76% ke 67.350,00, indeks Shanghai melemah 2,06% ke 3.913,79, sementara indeks Hang Seng menguat 0,16% ke 24.213,72, dan indeks Strait Times menguat 0,02% ke 5.470,34.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar