Periskop.id - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan bergerak sideways pada kisaran level 5.800–6.000 pada perdagangan pekan ini, Senin (13/7/2026).

Secara teknikal, IHSG tercatat ditutup di atas level MA5 dan MA10, namun masih berada di bawah MA20. Indikator Stochastic RSI menunjukkan pola death cross, sementara histogram MACD masih berada di area positif.

“Sehingga IHSG diperkirakan masih akan bergerak sideways pada kisaran level 5800-6000,” ulas tim riset Phintraco Sekuritas, Senin (13/7).

Adapun sejumlah saham yang direkomendasikan untuk dicermati oleh Phintraco Sekuritas antara lain ADRO, ADMR, BRMS, INCO, ARCI, dan SRTG.

Pada perdagangan sebelumnya, Jumat (10/7), IHSG ditutup menguat 0,20% ke level 5.924,36 setelah sempat bergerak terbatas. Pergerakan ini terjadi di tengah tekanan pada harga minyak mentah yang melemah tipis seiring meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

International Energy Agency (IEA) memproyeksikan permintaan minyak global berpotensi turun untuk pertama kalinya sejak 2020 pada tahun ini. Hal tersebut dipicu oleh konflik Iran yang merusak fasilitas produksi dan mengganggu ekspor di kawasan Timur Tengah.

Dari dalam negeri, data penjualan mobil menunjukkan kinerja positif. Penjualan mobil pada Juni 2026 tumbuh 12% secara tahunan (YoY) menjadi 77.550 unit, setelah meningkat 14% YoY pada Mei 2026. Secara kumulatif, penjualan mobil sepanjang semester I 2026 naik 15,9% YoY menjadi 436.564 unit.

“Faktor positif dari penjualan mobil diperkirakan akan berlanjut seiring adanya acara-acara terkait penjualan otomotif yang akan datang,” tulis riset tersebut.

Sementara itu, bursa saham Wall Street ditutup menguat pada Jumat (10/7), didorong oleh kenaikan saham sektor teknologi. Salah satu sentimen positif datang dari saham produsen chip memori asal Korea Selatan, SK Hynix, yang menguat setelah menyelesaikan IPO senilai US$26,5 miliar di Nasdaq—menjadi rekor IPO terbesar untuk perusahaan non-AS. Hal ini mencerminkan meningkatnya minat investor terhadap saham teknologi berkapitalisasi besar.

Secara global, harga minyak mentah menguat secara mingguan seiring memanasnya kembali konflik AS-Iran, sementara harga emas mengalami koreksi akibat kekhawatiran terhadap peningkatan inflasi.

Pelaku pasar saat ini mencermati perkembangan konflik AS-Iran terkait potensi gangguan pasokan minyak global dari Timur Tengah. Selain itu, perhatian juga tertuju pada musim rilis kinerja keuangan kuartal II 2026 yang akan dimulai oleh sejumlah bank besar.

Chairman The Fed Kevin Warsh dijadwalkan memberikan testimoni di hadapan Komite Jasa Keuangan DPR pada 14 Juli 2026 dan Komite Perbankan Senat pada 15 Juli 2026.

Sejumlah data ekonomi penting Amerika Serikat yang akan dirilis pekan ini meliputi inflasi (CPI), Michigan Consumer Sentiment, penjualan ritel, serta data sektor perumahan. Dari Tiongkok, pasar menantikan rilis data PDB kuartal II 2026, neraca perdagangan, produksi industri, penjualan ritel, tingkat pengangguran, hingga harga rumah.

Dari domestik, pemerintah akan menggelar lelang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) pada 14 Juli 2026 dengan target indikatif Rp10 triliun guna memenuhi sebagian kebutuhan pembiayaan APBN 2026. Bank Indonesia juga dijadwalkan merilis Statistik Utang Luar Negeri Mei 2026 pada 13 Juli 2026 untuk memberikan gambaran kondisi utang pemerintah dan swasta serta ketahanan eksternal Indonesia.

Selain itu, pasar masih menantikan hasil tinjauan peringkat kredit Indonesia oleh S&P yang diperkirakan akan dirilis pada 24 Juli 2026.