Periskop.id - PLN Unit Induk Distribusi (UID) Jakarta Raya memprediksi tren penggunaan kendaraan listrik di ibu kota akan terus mengalami lonjakan signifikan.
Fenomena ini diperkirakan semakin menguat seiring dengan isu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang dipicu oleh eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran belakangan ini.
General Manager PLN UID Jakarta Raya, Moch Andy Adchaminoerdin, mengungkapkan data yang menunjukkan antusiasme tinggi masyarakat terhadap transisi energi.
Menurut catatannya, jumlah pengguna kendaraan listrik (electric vehicle/EV) saat ini telah meningkat sangat tajam dibandingkan periode sebelumnya.
"Pertumbuhan kendaraan listrik sangat besar, khususnya Jakarta. Naik sampai sembilan kali lipat kendaraannya," ungkap Andy saat memberikan keterangan di kawasan Jakarta Selatan pada Senin (27/4), sebagaimana dikutip dari Antara.
Seiring dengan bertambahnya jumlah unit kendaraan listrik di jalanan ibu kota, Andy menyebutkan terjadi perubahan perilaku pada masyarakat dalam hal pengisian daya.
Saat ini, masyarakat cenderung lebih memilih untuk melakukan pengisian daya di rumah atau menggunakan fasilitas home charging.
Data internal PLN menunjukkan bahwa sejak 2021 hingga saat ini, penggunaan layanan home charging telah meningkat drastis hingga 21 kali lipat. Hingga saat ini, tercatat sudah ada sekitar 830 ribu pengguna yang memanfaatkan fasilitas pengisian daya mandiri di rumah tersebut.
Beralih ke kendaraan listrik kini dipandang sebagai langkah yang sangat masuk akal, terutama dari sisi efisiensi biaya.
Alasan utamanya adalah biaya pengisian daya listrik yang jauh lebih ekonomis dibandingkan membeli BBM. Penghematan ini akan semakin signifikan bagi mereka yang memiliki mobilitas tinggi setiap harinya.
Berdasarkan simulasi yang dilakukan oleh PLN pada 2021, efisiensi ini terlihat sangat nyata. Untuk menempuh jarak sejauh 72 kilometer, pengguna mobil listrik hanya memerlukan biaya sekitar Rp10.000.
Hal ini didasari perhitungan bahwa setiap 1 kWh energi listrik mampu membawa kendaraan melaju sejauh 10 kilometer.
Angka tersebut terpaut jauh jika dibandingkan dengan kendaraan konvensional. Dengan jarak tempuh yang sama (72 km), pengguna BBM setidaknya harus menghabiskan dana sekitar Rp60.000 dengan asumsi harga BBM Rp9.000 per liter. Artinya, biaya operasional kendaraan listrik bisa enam kali lebih murah.
Selain lebih terjangkau, tarif listrik juga cenderung lebih stabil karena sumber energi primernya melimpah dan tersedia di dalam negeri.
Sumber-sumber tersebut meliputi batu bara, gas bumi, hingga energi terbarukan seperti matahari, angin, dan air. Kondisi ini berbeda dengan harga BBM yang kerap fluktuatif mengikuti pasar global.
Stabilitas harga tersebut memudahkan masyarakat dalam merencanakan anggaran bulanan secara lebih pasti, sehingga kendaraan listrik bukan lagi sekadar tren lingkungan, melainkan solusi finansial yang nyata.
Tinggalkan Komentar
Komentar