Periskop.id - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mulai mempercepat gerakan pemilahan sampah dari rumah dengan menyiapkan insentif khusus bagi Rukun Warga (RW) yang berhasil menjalankan pemilahan sampah hingga 100%. Langkah ini menjadi bagian dari strategi besar Pemprov DKI menghadapi krisis pengelolaan sampah sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap TPST Bantargebang.

Kepala Seksi Pemilahan dan Pengumpulan Sampah Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta Sigit Pamungkas mengatakan, RW yang berhasil mencapai target pemilahan sampah penuh akan mendapatkan bantuan sarana dan prasarana dari pemerintah kelurahan.

"Di Instruksi Gubernur Nomor 5 Tahun 2026, RW yang capai pemilahan sampah 100 persen akan mendapat insentif prasarana seperti gerobak sampah," kata Sigit dalam “Sosialisasi Gerakan Pilah Sampah Dari Rumah” yang digelar secara daring, Rabu (20/5). 

Program ini merupakan implementasi dari Instruksi Gubernur DKI Jakarta Nomor 5 Tahun 2026 tentang Gerakan Pemilahan dan Pengolahan Sampah dari Sumber. Melalui aturan tersebut, Pemprov DKI mendorong perubahan perilaku warga agar mulai memilah sampah sejak dari rumah tangga.

Langkah itu dinilai mendesak karena mulai 1 Agustus 2026, Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang hanya akan menerima sampah residu atau sampah yang sudah tidak dapat didaur ulang. Bahkan, pada 2027 TPST Bantargebang ditargetkan tidak lagi menerima sampah baru.

“Melalui Instruksi Gubernur DKI Jakarta Nomor 5 Tahun 2026 tentang Gerakan Pemilahan dan Pengolahan Sampah dari Sumber, kami ingin mengajak masyarakat memahami bahwa memilah sampah bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan bersama untuk menyelamatkan Jakarta dari darurat sampah,” ujar Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Dudi Gardesi.

Data DLH DKI Jakarta menunjukkan mayoritas timbulan sampah ibu kota berasal dari rumah tangga. Hampir separuhnya merupakan sampah organik yang sebenarnya masih dapat diolah kembali menjadi kompos maupun produk lain yang bernilai ekonomi.

Kader Dasawisma hingga Jumantik
Karena itu, Pemprov DKI menggandeng kader dasawisma, PKK, posyandu, hingga juru pemantau jentik (jumantik) sebagai ujung tombak edukasi pemilahan sampah di tingkat lingkungan warga.

Kepala Dinas Pemberdayaan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk (PPAPP) DKI Jakarta Dwi Oktavia mengatakan keberhasilan gerakan pilah sampah sangat bergantung pada keterlibatan masyarakat hingga tingkat keluarga. "Para kader dasawisma, ada 76 ribu, harusnya tidak ada sejengkal pun area di Jakarta atau satupun anggota keluarga di Jakarta yang tidak terangkul," kata Dwi.

Menurut dia, pemilahan sampah bukan sekadar persoalan kebersihan lingkungan, tetapi bagian dari perubahan budaya masyarakat kota besar modern. "Kesadaran memilah sampah hanya urusan kebersihan, tapi juga bagian dari membangun budaya supaya dari sekarang kita memang menyiapkan diri menjadi warga Jakarta yang insya Allah seperti semakin nyata posisinya di global," jelasnya. 

Sigit menambahkan, para kader nantinya bertugas melakukan edukasi langsung dari rumah ke rumah, termasuk melalui forum RT, arisan PKK, maupun kegiatan posyandu agar kebiasaan memilah sampah benar-benar diterapkan warga secara konsisten. "Lurah memobilisasi kader untuk mengedukasi warga. Nanti akan diminta laporannya ke Lurah. Dari Lurah akan lapor ke Camat secara bulanan," ucap Sigit.

Selain itu, pemerintah juga menyiapkan bantuan fasilitas penunjang berupa wadah sampah terpilah, khususnya untuk sampah organik. "Kami sudah merencanakan penganggaran untuk bantuan wadah terpilah, terutamanya organik untuk ember," imbuhnya. 

Tidak hanya fokus pada pemilahan, para kader juga didorong mengaktifkan kembali Bank Sampah di tingkat RW. Jika belum tersedia, kader diminta membantu proses pembentukan dan pengorganisasiannya.

Kepala Bidang Pemberdayaan Masyarakat dan Kesejahteraan Keluarga Dinas PPAPP DKI Jakarta Hary Sutanto optimistis, gerakan tersebut dapat mengurangi volume sampah Jakarta secara signifikan jika dijalankan secara konsisten dan masif.

"Harapannya, nantinya tidak hanya mengurangi volume sampah di Jakarta tetapi juga mendekatkan regulasi dan mensukseskan pengelolaan sampah secara masif dan berkesinambungan," serunya. 

Sebelumnya, Pemprov DKI Jakarta juga telah mendeklarasikan gerakan “Jaga Jakarta Bersih, Pilah Sampah” dalam rangkaian pencanangan HUT ke-499 Jakarta di kawasan Jalan H.R. Rasuna Said, Jakarta Selatan.

Program itu menjadi bagian dari transformasi sistem pengelolaan sampah Jakarta menuju konsep ekonomi sirkular dan kota berkelanjutan, sejalan dengan target menjadikan Jakarta sebagai kota global dalam beberapa tahun mendatang.