Periskop.id - Bank Indonesia menggelar Jakarta Kreatif Festival (JKF) 2026 di Istora Senayan, Jakarta, pada 4-5 Juli. Festival ini menampung 377 tenant dan membidik total transaksi Rp40 miliar.

Deputi Gubernur Bank Indonesia Filianingsih Hendarta berharap penyelenggaraan JKF 2026 menjadi momentum memperkuat sinergi antarpemangku kepentingan dalam membangun ekosistem ekonomi kreatif.

"JKF juga dapat mendorong UMKM naik kelas, memperluas pemanfaatan pembayaran digital, serta meningkatkan aktivitas ekonomi masyarakat," kata Filianingsih dalam peresmian JKF 2026 di Jakarta, Sabtu (5/7).

Filianingsih menilai JKF 2026 membuktikan pengembangan UMKM dan percepatan digitalisasi sistem pembayaran bisa berjalan beriringan. Keduanya, menurutnya, saling mendorong sektor riil sekaligus mengerek produktivitas ekonomi DKI Jakarta.

Lewat festival ini, BI mendorong lahirnya inovasi, memperkuat ekosistem UMKM dan ekonomi kreatif, serta menumbuhkan literasi masyarakat terhadap produk lokal dan sistem pembayaran nasional.

Filianingsih juga mengapresiasi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta atas dukungan yang terjalin dalam meningkatkan kontribusi perekonomian ibu kota terhadap perekonomian nasional. Kolaborasi yang terbentuk melalui JKF, menurutnya, diharapkan menjadi energi bersama untuk memaknai semangat Jaga Jakarta.

Sementara itu, Kepala Kantor Perwakilan BI Provinsi DKI Jakarta Iwan Setiawan menargetkan total transaksi selama JKF 2026 mencapai Rp40 miliar.

"Angka ini naik dibandingkan JKF tahun 2025 dengan capaian transaksi Rp21 miliar," ungkap Iwan.

Tahun ini, Iwan menyebutkan pihaknya melibatkan 67 instansi dan lembaga yang bertujuan memperluas akses pasar, pembiayaan, dan promosi bagi para pelaku usaha ekonomi kreatif maupun UMKM di wilayah DKI Jakarta.

Dari total 377 tenant yang hadir, 290 di antaranya merupakan UMKM dari sektor kuliner, fesyen, dan kriya. Sisanya, 87 tenant, bergerak di bidang layanan, edukasi, dan komunitas sebagai etalase kreativitas dan inovasi Jakarta.

"Mewujudkan Jakarta sebagai kota global yang kreatif, inovatif, inklusif, dan berkelanjutan, sekaligus memberikan kontribusi nyata terhadap pertumbuhan ekonomi nasional," tutur Filianingsih.