periskop.id - Nilai tukar rupiah ditutup melemah tipis pada perdagangan Selasa, 10 Februari 2026, di tengah pelemahan indeks dolar Amerika Serikat (AS) dan meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah.

Pengamat ekonomi dan mata uang Ibrahim Assuaibi menyampaikan, rupiah pada perdagangan sore ini ditutup melemah 7 poin ke level Rp16.812 per dolar AS, dari penutupan sebelumnya di Rp16.805 per dolar AS. Sebelumnya, rupiah sempat menguat hingga 20 poin dalam perdagangan intraday.

“Pada perdagangan sore ini, mata uang rupiah ditutup melemah 7 poin ke level Rp16.812 dari penutupan sebelumnya Rp16.805,” ujar Ibrahim dalam keterangan resmi, Selasa (10/2).

Dari sentimen eksternal, indeks dolar AS justru tercatat melemah pada Selasa (10/2). Namun, pelaku pasar masih mencermati meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran.

Departemen Transportasi AS melalui Administrasi Maritim memperingatkan kapal berbendera AS untuk menghindari wilayah Iran saat melintasi Selat Hormuz dan Teluk Oman. Otoritas tersebut menyarankan kapal tetap berada dekat wilayah Oman dengan alasan risiko gangguan dari pasukan Iran.

Peringatan ini memicu kekhawatiran baru di pasar keuangan global, meski sebelumnya AS dan Iran mencatat kemajuan dalam pembicaraan terkait program nuklir Teheran. Iran sendiri dilaporkan tetap menolak menghentikan pengayaan nuklir, yang menjadi salah satu poin utama perselisihan dengan Washington.

Selain faktor geopolitik, pelaku pasar juga menanti sejumlah data ekonomi penting. Di AS, data penggajian non-pertanian (non-farm payroll/NFP) Januari akan dirilis pada Rabu, disusul data inflasi indeks harga konsumen (CPI) pada Jumat. Rilis data ini dinilai akan memengaruhi arah kebijakan suku bunga AS, terutama menjelang perubahan kepemimpinan di Federal Reserve.

Dari Asia, pasar juga menantikan data inflasi (CPI) Tiongkok yang akan dirilis Jumat, menjelang libur Tahun Baru Imlek. Permintaan energi dan aktivitas perjalanan di Negeri Tirai Bambu diperkirakan meningkat selama periode tersebut.

Sementara dari dalam negeri, sentimen relatif positif datang dari hasil survei Indikator Politik Indonesia yang mencatat tingkat kepuasan publik terhadap kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto mencapai 79,9 persen dalam 17 bulan masa pemerintahannya.

Menurut Ibrahim, stabilitas politik dan tingginya tingkat kepercayaan publik terhadap pemerintah menjadi salah satu faktor yang menopang persepsi positif terhadap prospek ekonomi domestik, meski tekanan eksternal masih membayangi pergerakan rupiah.

Untuk perdagangan berikutnya, rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah terbatas seiring pelaku pasar menanti rilis data ekonomi global dan perkembangan geopolitik.