periskop.id - Mata uang rupiah diperkirakan fluktuatif namun cenderung menguat pada perdagangan hari ini, Selasa 10 Februari 2026. Sebelumnya, mata uang rupiah ditutup menguat 71 poin ke level Rp16.805, setelah sempat menguat 80 poin dari penutupan sebelumnya di Rp16.876.

“Untuk perdagangan hari ini (10/2), mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup menguat di rentang Rp16.760–Rp16.800,” ulas Direktur PT. Traze Andalan Futures sekaligus pengamat ekonomi Ibrahim Assuaibi, Selasa (10/2).

Penguatan rupiah pada Senin (09/2/26) terjadi di tengah pelemahan indeks dolar AS dan meredanya kekhawatiran konflik militer di Timur Tengah. Washington dan Teheran menyampaikan bahwa pembicaraan nuklir tidak langsung akan dilanjutkan, setelah diskusi positif di Oman pada Jumat lalu.

“Hal ini menurunkan premi risiko terhadap harga minyak,” jelas Ibrahim.

Kekhawatiran akan perang habis-habisan di kawasan Timur Tengah kini dianggap lebih kecil, meskipun Teheran memberi sinyal akan tetap melanjutkan program pengayaan nuklirnya.

Sentimen global juga dipengaruhi oleh perhatian pasar terhadap sejumlah data ekonomi penting dari konsumen minyak terbesar dunia. Di AS, data penggajian non-pertanian untuk Januari akan dirilis pada Rabu, sementara data indeks CPI diumumkan Jumat. Di Tiongkok, data CPI Januari akan keluar Jumat ini sebelum libur Tahun Baru Imlek selama seminggu, yang diperkirakan mendorong peningkatan permintaan bahan bakar.

Di dalam negeri, optimisme terhadap penerimaan negara menjadi faktor pendukung rupiah. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memperkirakan penerimaan pajak 2026 bisa melampaui target APBN sebesar Rp2.357,7 triliun, meskipun realisasi tahun lalu hanya Rp1.917,6 triliun. Artinya, pemerintah harus mengejar tambahan setoran Rp440,1 triliun dari basis realisasi 2025 untuk mencapai target 2026.

Realisasi penerimaan pajak Januari 2026 sendiri melonjak 30,8% YoY. Selain itu, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) terbaru menunjukkan kenaikan dari 123,5 pada Desember 2025 menjadi 127 pada Januari 2026. 

“Level IKK ini menunjukkan kepercayaan konsumen berada di zona optimistis atau di atas nilai acuan 100,” ungkap Ibrahim.

IKK merupakan indikator yang dapat digunakan untuk memprediksi perkembangan konsumsi dan tabungan rumah tangga. IKK menggunakan tahun acuan dengan nilai 100. Artinya indeks kepercayaan konsumen pada Januari 2026 berada di zona optimistis atau di atas nilai acuan.