periskop.id - Nilai tukar rupiah ditutup melemah pada perdagangan Jumat, 10 April 2026, ke level Rp17.104 per dolar AS. Pelemahan 14 poin ini terjadi dari penutupan sebelumnya di Rp17.092, di tengah penguatan indeks dolar AS serta meningkatnya ketidakpastian global akibat dinamika geopolitik di Timur Tengah.

“Rupiah sore ini ditutup melemah 14 poin di level Rp17.104 dari penutupan sebelumnya Rp17.092, sebelumnya sempat melemah hingga 30 poin,” ujar Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi, Jumat (10/4).

Dalam sepekan, rupiah diperkirakan bergerak pada kisaran Rp17.040–Rp17.200, seiring masih tingginya ketidakpastian global dan menunggu arah kebijakan The Fed.

“Untuk perdagangan awal pekan depan, rupiah diperkirakan masih akan bergerak fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.110–Rp17.160,” imbuh Ibrahim.

Dari eksternal, tekanan terhadap rupiah dipicu oleh penguatan indeks dolar AS pada perdagangan akhir pekan seiring pasar menantikan rilis data inflasi konsumen (CPI) Amerika Serikat yang diperkirakan meningkat akibat lonjakan harga energi di tengah konflik Timur Tengah. Data ini dinilai akan menjadi petunjuk penting arah kebijakan Federal Reserve ke depan.

Di sisi geopolitik, ketegangan memang sedikit mereda setelah adanya gencatan senjata dua minggu yang rapuh antara Amerika Serikat dan Iran yang dimediasi Pakistan. Namun, situasi di lapangan masih jauh dari stabil. Israel disebut membuka peluang pembicaraan langsung dengan Lebanon dalam waktu dekat, sementara Iran tetap memperketat kontrol atas jalur pelayaran strategis.

Lalu lintas kapal di Selat Hormuz tercatat masih jauh di bawah 10% dari volume normal, meski ada kesepakatan gencatan senjata. Iran bahkan memperingatkan kapal untuk tetap berada di perairan teritorialnya, sementara wacana biaya lintas kapal yang diusulkan Teheran mendapat penolakan dari negara Barat dan badan pelayaran PBB. Konflik yang dimulai sejak akhir Februari juga telah merusak sekitar 50 infrastruktur energi di Teluk dan menonaktifkan sekitar 2,4 juta barel per hari kapasitas penyulingan minyak, menurut JPMorgan.

Dari dalam negeri, Survei Konsumen Bank Indonesia menunjukkan kondisi ekonomi masih berada pada level optimistis. Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) tercatat 115,4 pada Maret 2026, meski sedikit turun dari bulan sebelumnya. Penguatan terutama ditopang oleh naiknya Indeks Penghasilan Saat Ini (IPSI) ke level 129,2, sementara Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja (IKLK) dan Durable Goods tercatat sedikit melemah namun masih berada di zona optimistis.

Sementara itu, Bank Pembangunan Asia (ADB) memperkirakan pertumbuhan ekonomi negara berkembang Asia dan Pasifik melambat ke 5,1% pada 2026–2027 akibat tekanan konflik Timur Tengah dan ketidakpastian perdagangan global. Namun, ADB justru merevisi naik proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 5,2% pada 2026–2027, lebih tinggi dari estimasi sebelumnya di 5,1%.