periskop.id – Pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat menjadi sinyal pentingnya penguatan sektor riil dan produktivitas domestik. Langkah ini krusial untuk menjaga stabilitas nilai tukar mata uang nasional.
Hal itu disampaikan Ekonom Senior Pusat Kajian Keuangan, Ekonomi, dan Pembangunan Universitas Binawan, Farouk Abdullah Alwyni.
“Tekanan global memang memengaruhi banyak mata uang negara berkembang. Namun fakta empiris menunjukkan dalam satu hingga dua tahun terakhir cukup banyak mata uang dunia justru menguat terhadap dolar AS,” kata Farouk dikutip dari Antara, Selasa (26/5).
Farouk menilai penurunan nilai tukar rupiah yang menyentuh level historis tidak boleh dilihat hanya sebagai dampak penguatan dolar global. Kondisi ini harus menjadi momentum memperkuat ketahanan ekonomi nasional secara menyeluruh.
Mata uang seperti Ringgit Malaysia, Euro, Swiss Franc, hingga beberapa mata uang negara berbasis komoditas berhasil menguat terhadap dolar AS. Fakta tersebut menunjukkan ada ruang pembenahan pada struktur ekonomi domestik Indonesia.
Menurutnya, intervensi pasar valuta asing dan penyesuaian suku bunga dinilai tidak cukup menjaga stabilitas jangka panjang. Kebijakan moneter hanya berfungsi untuk stabilitas jangka pendek.
Kekuatan sektor riil menjadi penentu utama penguatan nilai tukar dalam jangka menengah dan panjang. Oleh karena itu, pemerintah harus fokus pada sektor produktif ini.
Daya beli masyarakat dan perlindungan terhadap kelas menengah wajib diperkuat. Kelompok ini merupakan penopang utama konsumsi nasional, penerimaan pajak, serta stabilitas permintaan domestik.
“Pelemahan kelompok ini pada akhirnya akan melemahkan pertumbuhan ekonomi dan ketahanan rupiah itu sendiri,” ujarnya.
Sistem perpajakan yang lebih kompetitif dan berkeadilan perlu didorong. Skema ini penting bagi kelas menengah, pelaku UMKM, serta sektor pencipta lapangan kerja agar konsumsi domestik tetap sehat.
Percepatan deregulasi dan debirokratisasi juga harus segera dilakukan. Langkah pendukung lain meliputi penguatan ekspor, peningkatan devisa pariwisata, serta pengembangan industri substitusi impor strategis.
Industri substitusi tersebut berfungsi mengurangi ketergantungan tinggi terhadap impor bahan baku. Kemandirian ini akan memperkuat posisi tawar ekonomi Indonesia.
“Stabilitas mata uang pada dasarnya sangat terkait dengan kepercayaan terhadap kapasitas produksi, iklim bisnis yang kondusif, dan daya saing ekonomi suatu negara,” katanya.
Pendekatan struktural menjadi kunci utama penguatan rupiah. Pemerintah perlu memperbesar kelas menengah dan meningkatkan produktivitas nasional untuk memperkokoh fundamental ekonomi.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar