periskop.id – Juru Bicara Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj), Maria Ulfa Assegaf menyatakan jemaah haji Indonesia mulai bergerak menuju Arafah secara bertahap untuk menjalani puncak ibadah haji.

 

Mobilisasi dari hotel masing-masing ini menandai dimulainya fase krusial yang menuntut kesiapan fisik, mental, serta kedisiplinan tinggi.

 

“Alhamdulillah, memasuki hari ke-34 operasional penyelenggaraan ibadah haji, hari ini jemaah haji Indonesia mulai bergerak menuju Arafah secara bertahap untuk menjalani puncak ibadah haji. Ini adalah fase yang sangat penting dan membutuhkan kesiapan fisik, mental, serta kedisiplinan seluruh jemaah,” ujar Maria Ulfa Assegaf di Jakarta, Senin (25/5).

 

Pergerakan jemaah menuju lokasi wukuf tersebut bertepatan dengan 8 Dzulhijjah 1447 Hijriah. Kemenhaj membagi proses pemberangkatan ke dalam tiga kelompok waktu operasional.

 

Sesi pelepasan rombongan berlangsung pada pukul 07.00, 11.30, dan 16.30 waktu Arab Saudi. Pembagian waktu ini bertujuan mencegah penumpukan massa di area pemondokan maupun jalur transportasi.

 

“Kami mengimbau seluruh jemaah agar mengikuti jadwal yang telah ditentukan, tidak bergerak sendiri, tidak mendahului rombongan, dan selalu mematuhi arahan petugas kloter, sektor, maupun pembimbing ibadah agar seluruh proses berjalan tertib dan aman,” katanya.

 

Kepatuhan terhadap ketentuan ihram menjadi poin krusial yang ditekankan oleh instansi tersebut. Pihak kementerian mengingatkan larangan-larangan khusus yang berlaku selama berpakaian ihram.

 

Jemaah laki-laki dilarang mengenakan busana berjahit yang membentuk lekuk tubuh. Mereka juga tidak boleh memakai penutup kepala melekat seperti peci dan dilarang menggunakan alas kaki penutup mata kaki.

 

“Sedangkan bagi jemaah perempuan, selama dalam keadaan ihram tidak diperkenankan menutup wajah dengan cadar maupun menggunakan sarung tangan. Seluruh jemaah juga harus menjaga diri dari larangan ihram lainnya seperti memotong kuku, mencabut rambut, menggunakan wangi-wangian setelah niat ihram, serta menjaga lisan dan perilaku agar ibadah tetap khusyuk,” ujarnya.

 

Kondisi cuaca panas ekstrem menuntut ketahanan tubuh yang prima dari setiap individu. Fase Armuzna terkenal memiliki dinamika pergerakan yang sangat intensif dan menguras tenaga.

 

“Kami meminta seluruh jemaah untuk menjaga kondisi tubuh dengan istirahat cukup, makan teratur, memperbanyak minum air putih, serta menghindari aktivitas yang tidak perlu agar energi tetap terjaga selama puncak ibadah haji,” katanya.

 

Alat pelindung diri berupa payung dan masker sangat disarankan saat beraktivitas di luar ruangan. Jemaah yang mengidap penyakit bawaan wajib memastikan obat-obatan pribadi selalu berada dalam jangkauan terdekat.

 

“Gunakan payung, masker, dan alas kaki yang nyaman saat beraktivitas di luar ruangan untuk mengurangi risiko kelelahan akibat cuaca panas. Bagi jemaah yang memiliki riwayat penyakit tertentu, pastikan obat pribadi selalu dibawa dan mudah dijangkau,” ujarnya.

 

Fasilitas medis lapangan telah disiapkan secara matang di titik-titik krusial ibadah. Layanan darurat ini akan beroperasi penuh mendampingi pergerakan jemaah.

 

“Kami menyiagakan masing-masing satu Pos Kesehatan Indonesia di Arafah dan di Mina untuk memastikan layanan kesehatan dapat diberikan secara cepat dan optimal selama fase Armuzna,” katanya.

 

Sebanyak 657 personel Satgas Arafah dikerahkan secara tersebar guna menyokong kelancaran mobilisasi. Tim ini diisi oleh petugas adhoc, pengawas katering, hingga tim perlindungan jemaah.

 

“Mereka terdiri dari petugas adhoc Arafah, koordinator markas, pengawas konsumsi, dan unsur layanan lainnya yang akan memastikan transportasi, akomodasi, konsumsi, kesehatan, bimbingan ibadah, hingga pelindungan jemaah berjalan maksimal,” katanya.

 

Sikap saling peduli antarjemaah menjadi penutup pesan dari juru bicara kementerian tersebut. Bantuan kilat harus segera diberikan jika menemui jemaah lansia yang kelelahan atau tersesat.

 

“Jika melihat jemaah yang tampak kebingungan, kelelahan, atau terpisah dari rombongan, mohon segera dibantu dan dilaporkan kepada petugas terdekat. Semoga seluruh jemaah Indonesia diberi kesehatan, kekuatan, serta kelancaran dalam menjalani wukuf di Arafah, mabit di Muzdalifah, dan lontar jumrah di Mina,” katanya.