periskop.id - Pergerakan nilai tukar rupiah masih dipengaruhi ketidakpastian konflik di kawasan Timur Tengah. Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menilai meski ada harapan penyelesaian, situasi belum sepenuhnya kondusif.

“Meskipun terdapat optimisme terhadap potensi penyelesaian konflik di Timur Tengah, ketidakpastian masih tergolong tinggi,” ujarnya, melansir Antara, Kamis (16/5).

Pada perdagangan Kamis pagi, rupiah menguat tipis sebesar 2 poin atau 0,01 persen ke level Rp17.141 per dolar AS, dari sebelumnya Rp17.143 per dolar AS.

“Untuk perdagangan hari ini, rupiah diproyeksikan bergerak dalam kisaran Rp17.075–Rp17.200 per dolar AS,” kata Josua.

Tekanan eksternal datang dari perkembangan di Timur Tengah, di mana Angkatan Laut Amerika Serikat dilaporkan mencegat delapan kapal tanker minyak yang keluar-masuk pelabuhan Iran sejak awal pekan. Kondisi ini membuat pelaku pasar cenderung mengambil sikap wait and see sambil menunggu kepastian arah konflik.

Di sisi lain, proses diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran mulai menunjukkan kemajuan. Harga minyak pun masih bertahan di bawah 100 dolar AS per barel, sementara premi risiko di pasar keuangan mulai mereda setelah sempat meningkat akibat eskalasi konflik pada akhir Februari 2026.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa perang sudah sangat dekat dengan akhir, serta memberi sinyal bahwa Iran mulai terbuka terhadap kesepakatan damai. Pembicaraan lanjutan antara kedua pihak diperkirakan segera berlanjut.

Dari sisi kebijakan moneter global, lanjut Josua, The Fed diperkirakan masih akan mempertahankan suku bunga acuannya, Fed Funds Rate (FFR), dalam waktu dekat, bahkan berpotensi sepanjang 2026.

Sementara itu, Presiden Federal Reserve Chicago, Austan Goolsbee, mengingatkan bahwa pemangkasan suku bunga bisa tertunda hingga paling cepat 2027 jika harga energi tetap tinggi.

Adapun dari dalam negeri, sentimen berasal dari laporan terbaru S&P Global Ratings yang menyoroti kerentanan ekonomi Asia Tenggara. Indonesia dinilai termasuk negara dengan risiko lebih tinggi apabila konflik Timur Tengah berlangsung berkepanjangan.

Selain itu, potensi peningkatan inflasi domestik juga dapat mendorong kenaikan suku bunga pasar, yang pada akhirnya berimbas pada meningkatnya biaya pinjaman pemerintah.