periskop.id - Tekanan terhadap perekonomian Indonesia kian terasa seiring pelemahan nilai tukar rupiah yang mendekati level Rp18.000 per dolar AS. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada sektor keuangan, tetapi mulai merembet ke sektor riil, khususnya industri padat karya yang berisiko melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK).

Nilai tukar rupiah melemah 39 poin ke Rp17.885 per dolar AS pada perdagangan siang hari, dengan tekanan yang dinilai lebih bersifat struktural ketimbang teknis kebijakan moneter. Pengamat Ibrahim Assuabi menyebut ketidakpastian pasca pergantian Menteri Keuangan, kebijakan yang tidak sejalan dengan ekspektasi pasar, serta sorotan MSCI terhadap rendahnya free float emiten turut memicu sentimen negatif. 

Advertisement

“Yang seharusnya 15%, tetapi rupanya perusahaan-perusahaan yang listing di bursa itu 3 sampai 7,55,” ujarnya. Kondisi ini diperparah oleh memburuknya transaksi berjalan dan menyusutnya surplus perdagangan, lonjakan harga minyak akibat tensi geopolitik dan blokade Selat Hormuz, serta meningkatnya kebutuhan dolar untuk impor energi, pembayaran dividen, dan pembiayaan utang jatuh tempo.

Di sisi lain, minat investor terhadap obligasi menurun, masyarakat mulai beralih ke valas, dan rencana ekspor satu pintu menambah kekhawatiran pasar, sehingga tekanan terhadap rupiah terus berlanjut.

Laporan terbaru dari CORE Indonesia mengungkapkan bahwa depresiasi rupiah yang menembus level Rp17.400 dalam beberapa waktu terakhir telah meningkatkan biaya impor bahan baku bagi industri manufaktur. Jika tekanan ini berlanjut, bukan tidak mungkin rupiah menyentuh Rp18.000, memperdalam beban dunia usaha.

Dalam skenario yang disusun lembaga tersebut, kenaikan harga input produksi akibat pelemahan rupiah dapat memaksa perusahaan memangkas output. Penurunan produksi ini, meskipun terlihat kecil. Berkisar antara 0,01% hingga 0,15%, cukup signifikan untuk memicu pengurangan tenaga kerja.

“Estimasi kami menunjukkan potensi tambahan PHK mencapai 15,25 hingga 20,26 ribu pekerja,” demikian tertulis dalam laporan tersebut.

Sektor manufaktur diperkirakan menjadi yang paling terdampak, dengan potensi PHK mencapai 8,7 hingga 12,1 ribu pekerja. Sementara itu, sektor jasa berpotensi kehilangan 3,3 hingga 4,5 ribu tenaga kerja, dan sektor pertanian sekitar 3,3 hingga 3,6 ribu pekerja .

Tekanan ini dipicu oleh kombinasi faktor global dan domestik. Gangguan rantai pasok internasional, termasuk hambatan di jalur strategis seperti Selat Hormuz, memperburuk ketersediaan bahan baku. Di sisi lain, ketergantungan industri nasional terhadap impor membuat dampak depresiasi rupiah menjadi semakin dalam.

Situasi ini memperlihatkan rapuhnya struktur pasar tenaga kerja Indonesia. Data menunjukkan bahwa per Februari 2026, sekitar 59,42% tenaga kerja berada di sektor informal, mencerminkan lemahnya daya serap sektor formal . Bahkan, pertumbuhan tenaga kerja formal dalam beberapa tahun terakhir jauh tertinggal dibanding sektor informal.

CORE Indonesia menilai PHK hanyalah gejala dari masalah yang lebih struktural. Ketergantungan terhadap bahan baku impor dan transmisi cepat gejolak global ke sektor domestik menjadi akar persoalan yang harus segera diatasi.

Tanpa intervensi kebijakan yang tepat, mulai dari stabilisasi nilai tukar, insentif bagi industri, hingga penguatan rantai pasok domestik, gelombang PHK berpotensi semakin meluas. Jika rupiah benar-benar menembus Rp18.000, tekanan terhadap dunia usaha dan tenaga kerja diperkirakan akan semakin berat.