periskop.id - Nilai tukar rupiah kembali tertekan pada perdagangan Jumat, 29 Mei 2026. Mata uang Garuda ditutup melemah 35 poin ke level Rp17.880 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di Rp17.845, setelah sempat terdepresiasi hingga 55 poin sepanjang sesi perdagangan.

Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai tekanan terhadap rupiah masih cukup kuat, baik dari sentimen eksternal maupun domestik. Rupiah diperkirakan masih bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah dalam jangka pendek.

Advertisement

“Pada perdagangan hari ini rupiah ditutup di Rp17.880 setelah sempat melemah hingga 55 poin. Untuk pekan depan, rupiah diperkirakan bergerak di kisaran Rp17.880–Rp17.940, dengan range mingguan berada di Rp17.800 sampai Rp18.100,” ujar Ibrahim dalam keterangan resminya, Jumat (29/5).

Sentimen Eksternal

Dari sisi global, penguatan indeks dolar AS menjadi salah satu faktor utama yang menekan rupiah. Sentimen pasar sempat membaik setelah muncul laporan mengenai draf kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran untuk memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari

“Prospek stabilitas geopolitik ini sedikit meredakan kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan minyak dan distribusi melalui Selat Hormuz,” kata Ibrahim.

Namun, kondisi lalu lintas yang belum sepenuhnya pulih membuat premi risiko tetap tinggi, sehingga harga minyak masih bergerak fluktuatif. Di sisi lain, data inflasi Amerika Serikat yang masih tinggi memperkuat ekspektasi bahwa The Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Hal ini mendorong penguatan dolar AS.

Selain itu, pertumbuhan ekonomi AS kuartal I-2026 hanya mencapai 1,6% atau lebih rendah dari perkiraan sebelumnya 2%. Sementara, klaim pengangguran awal naik menjadi 215.000, melampaui ekspektasi pasar.

Sentimen Domestik

Dari dalam negeri, tekanan terhadap rupiah juga datang dari arus keluar modal asing (capital outflow) akibat daya tarik imbal hasil aset di AS yang lebih tinggi.

Kekhawatiran terhadap kondisi fiskal Indonesia juga turut membebani sentimen pasar, terutama terkait prospek defisit anggaran yang menjadi perhatian lembaga pemeringkat global seperti S&P Global, Moody’s, dan Fitch Ratings.

Selain itu, tingginya harga minyak dunia meningkatkan kebutuhan impor energi, sehingga permintaan dolar AS meningkat. Hal ini berdampak pada menyempitnya surplus neraca perdagangan dan terbatasnya pasokan dolar di pasar domestik.

Permintaan dolar yang meningkat secara musiman, termasuk untuk pembayaran dividen dan impor rutin korporasi, turut memberikan tekanan tambahan terhadap rupiah.

Pelemahan rupiah juga terjadi seiring tekanan di pasar saham dan obligasi domestik, dipicu sentimen rebalancing indeks global seperti MSCI, kekhawatiran defisit fiskal, serta kenaikan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN)