periskop.id - Rupiah pagi ini dibuka melemah 75 poin ke level 17.672 terhadap dolar AS. Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai, salah satu pemicu pelemahan tersebut adalah pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang terkesan menganggap enteng penguatan dolar terhadap rupiah.
Ibrahim menyoroti pernyataan Presiden Prabowo yang mengibaratkan penguatan dolar tidak berdampak bagi masyarakat desa karena tidak menggunakan mata uang tersebut. Menurutnya, narasi seperti ini berisiko memicu persepsi negatif di kalangan pelaku pasar.
Ia menegaskan, pelemahan rupiah saat ini terjadi di tengah kombinasi tekanan global dan domestik yang cukup berat. Penguatan dolar AS turut mendorong kenaikan harga minyak mentah, yang pada akhirnya meningkatkan beban impor energi Indonesia.
“Pernyataan dari Presiden Prabowo ini juga berdampak fatal terhadap kelemahan mata uang rupiah,” ujar Ibrahim dalam keterangannya, Senin (18/5).
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa kebutuhan impor minyak Indonesia yang besar, mencapai sekitar 1,5 juta barel per hari, membuat rupiah sangat sensitif terhadap pergerakan harga energi global. Kondisi ini diperparah oleh periode pembagian dividen yang meningkatkan permintaan valas.
Selain itu, terjadi perubahan perilaku masyarakat dalam menyimpan dana. Peralihan dari rupiah ke valuta asing dinilai semakin menekan nilai tukar di pasar domestik.
“Masyarakat berpindah menabung dari rupiah menjadi valuta asing. Kondisi ini membuat rupiah terus mengalami pelemahan,” kata Ibrahim.
Di sisi lain, pernyataan Presiden yang menyebut pelemahan rupiah tidak berdampak bagi masyarakat kampung dinilai memperburuk psikologis pasar. Pernyataan tersebut bahkan dianggap tidak mencerminkan kondisi riil di lapangan.
Ibrahim menilai, komentar tersebut secara tidak langsung juga bisa ditafsirkan sebagai sindiran terhadap kinerja para menteri di kabinet yang belum mampu menahan tekanan terhadap rupiah.
“Ini sebenarnya bisa dianggap mengolok-olok pembantu Presiden sendiri, para menterinya. Kenapa para menterinya tidak bisa membuat rupiah ini kembali menguat?” tegasnya.
Menurutnya, sebagian pelaku pasar melihat pernyataan itu sebagai sinyal ketidakpastian arah kebijakan pemerintah dalam menghadapi pelemahan rupiah yang cukup signifikan. Dalam situasi seperti ini, pemerintah seharusnya menyampaikan langkah konkret, mulai dari pengelolaan impor energi hingga percepatan implementasi program B50 sebagai substitusi bahan bakar fosil.
“Seharusnya pemerintah memberikan masukan tentang kebutuhan minyak mentah yang tinggi, kemudian akan ada B50 sebagai pendamping bahan bakar fosil, serta bagaimana menangani krisis agar rupiah kembali menguat,” jelas Ibrahim.
Ia juga menepis anggapan bahwa masyarakat desa tidak memahami perkembangan ekonomi dan keuangan. Menurutnya, kemajuan teknologi telah membuat akses informasi semakin merata hingga ke pelosok.
“Di kampung pun sekarang banyak orang yang mengenal saham. Di desa juga banyak yang tahu tentang dolar. Kenapa? Karena sekarang zaman teknologi,” ungkapnya.
Lebih jauh, Ibrahim menilai kemungkinan adanya kekurangan informasi yang diterima Presiden dari para pembantunya, termasuk Sekretaris Kabinet, terkait kondisi masyarakat saat ini. Dengan kondisi tersebut, Ibrahim menekankan pentingnya komunikasi kebijakan yang kredibel dan berbasis data untuk menjaga kepercayaan pasar.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar